Kudus  

Proklim Desa Wates Undaan Galakkan Ruang Hijau

PEDULI: Pemerintah Desa Wates Undaan bersama proklim, pihak sekolah dan masyarakat lakukan penghijauan 1.250 pohon di Hari Lingkungan Hidup beberapa waktu lalu. (DOK. PRIBADI/JOGLO JATENG)

KUDUS, Joglo Jateng – Proklim Gemah Ripah, Desa Undaan sebelah utara dan Proklim Lohjinawe, Desa Undaan Selatan menggalakkan penghijauan sebagai langkah mitigasi bencana. Proklim yang berdiri sejak 2017 tersebut juga berencana membuat ruang hijau sebagai pusat jantung sehat.

Pengurus Proklim, Sunardi menyebutkan, rencana ini akan dilaksanakan November 2024 nanti. Nantinya, kata dia, ruang hijau ini akan ditanami sengon.

“Fokus kami selama ini memang pada penghijauan. Apalagi Undaan ini juga menjadi salah satu daerah langganan banjir. Dan karena kami punya dua proklim ini nanti juga rencana akan digabungkan,” ujarnya kepada wartawan Joglo Jateng.

Baca juga:  Rekom Stadion Persiku, Askab PSSI Masih Abu-abu

Belum lama ini, lanjut dia, proklim bersama pemdes, masyarakat, PKK dan pihak sekolah terdekat juga melakukan penanaman 1.250 pohon. Penanaman ini dilaksanakan di wilayah timur dan barat Desa Wates serta sisanya dibagikan ke warga.

“Jenisnya ada tabebuya, minyak angin atau kayuputih, rambutan dan jambu kristal, sirsat, sengon. Sebanyak 500 pohon dengan berbagai jenis itu dibagikan kepada warga,” imbuhnya.

Untuk ketahanan pangan, proklim berencana melakukan pemanfaatan lahan pekarangan untuk ditanami apotek hidup serta sayuran. Yaitu melalui kerja sama dengan kelompok masyarakat.

Baca juga:  Tingkatkan Kualitas, DBHCHT Bantu Pengadaan Ambulans dan Obat-obatan

“Ini baru rencana, karena kami melihat masyarakat selalu antusias saat ada pembagian tanaman. Dan apotek hidup ini juga sebagai program ketahanan pangan,” bebernya.

Dikatakannya, untuk meningkatkan ekonomi masyarakat merek diajak untuk mengembangkan minyak jelantah sebagai limbah rumah tangga. Agar nantinya limbah tersebut bisa dikelola dan dijual agar menjadi pemasukan.

Sementara, pengelolaan sampah di Wates sudah berjalan selama tujuh tahun. Yaitu pengambilan sampah dari rumah warga di bawa ke Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Tanjung Rejo.

“Kegiatan bank sampah ini telah berjalan di beberapa RT. Rencananya agar bisa dikelola pribadi, kami juga akan beli mesin pembakar sampah dan organik programnya dibuat pupuk kompos. Hasilnya dari penjualan sampah ini diberikan setahun sekali,” katanya. (cr1/fat)