Dintanpan Rembang Dorong Petani Gunakan Pupuk Organik yang Berkelanjutan

MONITORING: Kegiatan monitoring dari Dintanpan kepada kelompok petani lapangan di Kecamatan Sluke, belum lama ini. (DYAH NURMAYA SARI/JOGLO JATENG)

REMBANG, Joglo Jateng – Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Dintanpan) Kabupaten Rembang mendorong petani untuk penggunaan pupuk organik agar tanah bisa berkelanjutan. Sehingga tanah tidak terlalu banyak resiko bahan kimia. Hal ini bertujuan pada kemampuan produksi tanaman untuk generasi penerus tetap terjaga.

Kepala Dintanpan Rembang, Agus Iwan menyampaikan, keberadaan pupuk yang mensuplai sudah banyak. Hampir seluruh kecamatan di kabupaten menggunakan pupuk organik.

Meskipun belum keseluruhan, ada beberapa kecamatan yang sudah penuh menggunakan. Diantaranya, Kecamatan Kaliori, Kecamatan Sale, Kecamatan Sluke, Kecamatan Sumber dan Kecamatan Pancur.

Baca juga:  Istri Penjabat Diingatkan untuk Hidup Sederhana

“Kecamatan Kaliori sudah menggunakan organik namun luasannya tidak besar. Di Kecamatan Sluke lumayan, hampir satu hektar organik. Jadi, disamping memang karena pupuk kimia mahal, sedikit jumlahnya,” kata Iwan.

Berkaitan dengan kesehatan tanaman, menurutnya, petani ingin mengkonsumsi beras bebas dari kimia. Kemudian setelah dikenalkan banyak yang minat. Sosialisasi ia bantu lewat media sosial, dan para penyuluh untuk terus mengenalkan produk-produk pertanian.

“Sudah mulai tinggi proporsi pupuk organik hampir seluruh kecamatan. Meskipun sebagian juga masih menggunakan pupuk kimia,” tuturnya belum lama ini.

Pentingnya pupuk organik ini mendorong petani untuk agar kesehatan tanah bisa berkelanjutan. Pasalnya, tidak terlalu banyak resiko bahan kimia. Ia harap nanti kemampuan produksi tanaman untuk generasi penerus tetap bisa terjaga.

Baca juga:  Pemkab Rembang Gelar Expo untuk Tingkatkan Daya Saing & Kreativitas UMKM

“Yang kita khawatirkan penggunaan pupuk kimia tidak sesuai dosis atau overdosis. Sehingga bisa memicu banyak hal pada kondisi tanah,” ujarnya.

Penggunaan pupuk organik itu bisa dilihat dari lapisan lumpurnya bisa mendalam. Sedangkan pupuk kimia lumpurnya tidak lebih dari kedalaman 20 cm tanah sudah mengeras. Akhirnya menimbulkan produksi tanaman nanti menurun, sehingga harus ditambah dosisnya lagi menjadi kurang bagus.

“Kalau petani yang pemahamannya bagus dia akan konsisten tidak terpengaruh di harga. Namun petani yang berharap harga tinggi, tidak dihargai dengan harga cukup biasanya menjadi tidak konsisten,” ungkapnya.

Baca juga:  Dinpermades Catat PAD Tinggi Kabupaten Rembang Berkat BUMDes

Dirinya menyampaikan, ini masih menjadi PR bersama, yang seharusnya harus ada sertifikasi pupuk organik. Sehingga pasar mengapresiasi dengan harga yang cukup.

Jika masyarakat belum menghargai hal itu, mengakibatkan jumlah produktifitas pupuk organik menurun. Disisi lain ada juga petani yang menggunakan pupuk kimia mematok harga lebih rendah. Hal itu yang menggoda konsistensi petani. (cr3/fat)