Tergiur Gaji 2 Digit, Warga Semarang Utara Dipaksa Jadi Penipu

KONFERENSI PERS: Ibu Korban TA (63) saat menunjukkan surat untuk Presiden RI Jokowi sebelum dikirimkan melalui pos, Rabu (26/6/24). (FADILA INTAN QUDSTIA/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Warga asal Kecamatan Semarang Utara berinisial A (36) menjadi salah satu korban TPPO yang dipaksa menjadi penipu online di Myanmar sejak tahun 2023. Hal itu karena ia awalnya tergiur adanya lowongan kerja (loker) di media sosial Facebook sebagai admin dengan penghasilan sekitar Rp 12-20 juta per bulan di Selandia Baru.

Ibu Korban, TA (63) mengaku, setelah anaknya meminta izin untuk bekerja di perusahaan itu, ia langsung memiliki firasat buruk dan tidak percaya. Karena perekrutan dari perusahaan itu tidak jelas namanya dan bergerak dibidang apa. Sebelum berangkat, A sempat meminta uang sebanyak Rp 16 juta untuk biaya penyaluran.

“Berangkat dari Semarang akhir Mei 2023. Sampai sana (Myanmar, Red.) awal Juni. Dia langsung hubungi orang tua ‘kok kerjanya kayak begini’ sampai dia dijagal oleh banyak aparat dan nangis minta pulang,” ucapnya saat ditemui Joglo Jateng, Rabu (26/6/24).

Baca juga:  Meski Ribuan Buruh Kena PHK, Tingkat Pengangguran Menurun

A, lanjut sang ibu, diseberangkan naik kapal ke wilayah yang merupakan zona hitam atau area konflik. Anaknya dipaksa bekerja dengan tidak digaji selama 18 jam, dengan 30 menit istirahat dan tidur sebanyak 3 jam setiap harinya bersama 8 orang yang berasal dari Indonesia.

“Akibat dia bekerja didepan laptop dengan durasi itu. Kondisi terakhir, yaitu mengalami gangguan penglihatan di bagian mata. Dan ada 1 orang mengalami stroke dari pekerjaan itu,” ujar TA.

Selain itu jika korban A tidak memenuhi target, maka pihak perusahaan tidak segan melakukan penyiksaan. Seperti diminta lari, dicambuk, dan masih banyak lagi.

“Korban A sempat meminta pulang kepada perusahaan. Namun, mereka berkata jika ingin pulang, maka dia harus membayar tebusan sebanyak Rp 150 juta. Kita juga tidak mampu membayar uang segitu dan dia harus mencari penggantinya dia sebagai scammer (penipu, Red.). Tolong pulangkan dia dengan dengan selamat dan bisa berkumpul dengan keluarga,” ungkap TA.

Baca juga:  PDIP Jateng Harap 12 Kabupaten/Kota Bisa Lawan Kotak Kosong pada Pilkada 2024

Ia menuturkan, target korban scammer pun juga berbagai macam negara. Di antaranya Afrika, Indonesia, dan sebagainya.

“Kami menyakini bahwa yang dicari perusahaan itu uang dan orang,” imbuhnya.

Sementara itu, Pendamping Hukum LBH Semarang, Tuti Wijaya menyampaikan pihak keluarga korban melakukan pelaporan ke LBH sekitar 23 Juni lalu. Di mana korban saat itu masih bisa berkomunikasi dengan keluarga. Meski, tidak bisa berlama-lama lantaran penjagaan yang sangat ketat dari aparat keamanan yang menjaga di wilayah itu.

“Dari delapan orang ini bergantian (menelpon keluarga dengan satu HP, Reed.) yang kita bantu (advokasi, Red.). Beberapa kali kita ketahuan melapor ke berbagai pihak sampai dia (korban A, Red.)  disiksa di sana. Saat ini LBH Semarang dengan beberapa kawan satu jaringan solidaritas korban bagi korban TPPO paksa mencoba melakukan advokasi bagi korban kekerasan, yaitu penyiksaan,” paparnya.

Baca juga:  Cegah Bahaya DBD, KKN Posko 10 UIN Walisongo Gelar Pemeriksaan Jentik Nyamuk Bersama Ibu-Ibu PKK Kelurahan Jatirejo

Bertepatan Hari Anti Penyiksaan, pihaknya mencoba melakukan berbagai upaya untuk memulangkan korban ke Indonesia. Salah satunya pelaporan ke KBRI, Kemenlu, Mabes Polri, serta Komnas Perempuan dan HAM.

“Tetapi hingga saat ini belum ada hasil yang terlihat. Sehingga kita akan bersurat ke presiden Jokowi setelah ini melalui kantor pos,” pungkasnya.

Pihaknya juga berencana akan melakukan pelaporan ke Polda Jateng dan Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng). Hal ini supaya kasus ini segera terselesaikan dan pihak keluarga bisa bertemu dengan anak tercinta. (int/adf)