DPMPTSP Proyeksikan 25 Persen Industri di Jateng Manfaatkan Energi Terbarukan

Kepala DPMPTSP Jateng, Sakina Rosellasari
Kepala DPMPTSP Jateng, Sakina Rosellasari. (LU'LUIL MAKNUN/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jawa Tengah menargetkan sebanyak 25 persen dari 605 industri di Jateng bisa memanfaatkan energi baru terbarukan (EBT). Sebab, sepanjang 2020 hingga 2024, hanya 29 di antaranya atau 4,7 persen yang turut menggunakan EBT.

“Berkaitan dengan investasi hijau di Jateng memang masih dalam taraf yang akan naik ya, dari data yang ada pada kami 2020 sampai 2024 untuk izin usaha penyediaan tenaga listrik sendiri jadi untuk (IUPTLS) itu 605, jadi yang pakai EBT dalam hal ini surya dan uap ini baru 29 atau hanya 4,7 persen,” kata Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jawa Tengah, Sakina Rosellasar pada Joglo Jateng, belum lama ini.

Baca juga:  RSUD dr Adhyatma Punya Inovasi Telpon Mbahe, Dukung Upaya Meningkatkan Kualitas Hidup Pasien Geriatri

Pihaknya mencatat izin operasi atau IUPTLS mengalami tren penurunan. Pada 2020 ada 1 izin masuk, 2021 ada 2 izin masuk, 2022 ada 10 izin, 2023 ada 9 izin, 2024 sampai dengan Juni ada 7 izin.

Oleh karena itu, Sakina akan terus mendorong semua industri di Jateng untuk mulai mengurangi penggunaan fosil dan beralih menerapkan EBT mulai dari skala kecil. Apalagi potensi tenaga listrik dari EBT di Jateng terbilang besar.

“Ini saatnya juga para pelaku usaha di Jateng itu untuk meningkatkan dan menggunakan EBT melalui surya panel atau uap. Datanya masih belum menunjukkan angka yang menggembirakan. Targetnya sih 25 persen untuk para pelaku usaha melakukan hal tersebut,” tegasnya.

Baca juga:  Mahasiswa KKN Posko 11 UIN Walisongo Ikut Turut Ikut Serta Dalam Kegiatan Posyandu Di Desa Kandri

Terlebih, menurutnya saat ini konsumen atau buyer sangat memperhatikan faktor keberlanjutan atau sustainability dalam suatu bisnis. Sehingga pelaku industri yang menerapkan EBT dan berkontribusi mewujudkan nol karbon akan memiliki nilai tambah yang menarik para buyer.

“Karena untuk buyer itu juga menentukan (investasinya) salah satunya yang memperhatikan kelangsungan sumber daya energi, dalam hal ini seperti Eropa, Amerika, kemudian Jepang itu kan peduli pada nihil (nol) karbon,” bebernya.

Sakina menyampaikan 4,7 persen industri yang menerapkan EBT itu di dominasi industri padat karya yang memproduksi produk ekspor, seperti alas kaki dan tekstil.

Baca juga:  Jalankan Layanan ILP Tingkat RW

“Tapi ada jenis produk lain, ada juga farmasi, lalu ada industri energi juga dan pertamina, jadi BUMN, kemudian juga untuk yang perusahaan lainnya yang orientasi ekspornya 100 persen,” lanjutnya.

Pihaknya berharap, selain dari faktor buyer yang menginginkan industri nol karbon, pelaku industri juga memiliki kesadaran untuk beralih ke EBT.

“Harapannya tidak hanya buyer yang menentukan, tapi juga inisiasi dari para pelaku usaha untuk juga peduli terhadap lingkungan. Kami mengimbau, mendorong, pelaku usaha sama-sama menurunkan emisi dan juga menciptakan lingkungan yang green investments,” tandasnya. (luk/gih)