Bahan Makanan Jadi Pemicu Deflasi

Kepala BPS Kota Yogyakarta Mainil Asni
Kepala BPS Kota Yogyakarta Mainil Asni. (RIZKY ADRI KURNIADHANI/JOGLO JOGJA)

KOTA, Joglo Jogja – Kota Yogyakarta mengalami deflasi month to month (m-to-m) sebesar 0,19 persen pada Juni 2024. Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Yogyakarta mencatat, kelompok bahan makanan menjadi penyumbang deflasi tertinggi.

Kepala BPS Kota Yogyakarta Mainil Asni menjelaskan, kelompok komoditas yang menyumbang terjadinya deflasi ini ada pada kelompok makanan dan minuman. Di mana komoditas itu memiliki andil 0,24 persen.

“Sepanjang Juni mengalami penurunan yang cukup banyak di beberapa komoditas bahan makanan, seperti beras dan kangkung. Ini relatif standar, karena adanya libur sekolah, sehingga banyak wisatawan dan lain sebangainya. Selain itu, juga terlihat kenaikan di makanan jadi (makanan matang),” ungkapnya, Senin (1/7/24).

Baca juga:  Rejowinangun Jadi Satu-satunya Kampung Wisata Mandiri

Ia menambahkan, beberapa komoditas yang menyebabkan inflasi meliputi sigaret kretek mesin, kue basah, tahu mentah, anggur, petai, santan, hingga kopi bubuk. Sebaliknya, beberapa komoditas penyumbang deflasi itu antara lain bawang merah (0,05 persen), beras (0.03 persen), telur ayam (0,03 persen) dan lain-lain.

“Pola konsumsi di Kota Yogyakarta mengalami pergeseran dari bahan makanan ke makanan jadi akibat kedatangan wisatawan dari berbagai daerah. Karena wisatawan yang datang ke sini akan beli pasti makanan jadi, bukan bahan makanan,” tambahnya.

Lebih lanjut, ketika dilihat dari pola-polanya, biasanya awal pelajaran di sekolah pada Juli mendatang akan terjadi kenaikan permintaan yang menyebabkan naiknya harga pada peralatan dan seragam sekolah. Meski begitu, akan dilihat komoditas yang lainnya, karena jika terjadi kenaikan yang lebih tinggi, ini tidak akan kelihatan.

Baca juga:  Tuai Penolakan, Pembangunan TPSS Srimulyo Dirembuk Ulang

“Kita memiliki 400 komoditas yang dilakukan pemantauan. Jika komoditas peralatan dan seragam sekolah ada kenaikan tidak besar, maka tidak akan kelihatan karena tertutup komoditas yang lainnya,” pungkasnya. (riz/abd)