Jepara  

Ruang Terbuka Hijau di Jepara Baru 18,12 Persen

POTRET: Salah seseorang warga tengah mengecek kondisi Ruang Terbuka Hijau di daerah Jobokuto Jepara, belum lama ini.
POTRET: Salah seseorang warga tengah mengecek kondisi Ruang Terbuka Hijau di daerah Jobokuto Jepara, belum lama ini. (LIA BAROKATUS SOLIKAH/JOGLO JATENG)

JEPARA, Joglo Jateng – Kabupaten Jepara baru memiliki sedikit Ruang Terbuka Hijau (RTH) di kawasan kota. Dari yang seharusnya berstandar minimal 30 persen dari total kawasan, saat ini baru mencapai 18,12 persen.

Bidang (Kabid) Pengendalian Pencemaran dan Pemeliharaan Lingkungan Hidup (P3LH) Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Jepara, Nexson menyampaikan, RTH memiliki beberapa aspek. Terdiri dari hutan kota, taman kota, jalan hingga konservasi.

“Tidak hanya satu konsep, melainkan terdiri dari beberapa aspek. Salah satunya, konservasi secara umum seperti penghijauan pantai dan areal pemukiman warga,” ungkapnya.

Baca juga:  Gus Haiz Harap PPDB di Jepara Berjalan Sesuai Aturan

Kemudian, kendala dari kurangnya maksimal RTH di Jepara karena jumlah penduduk yang sangat besar, kemiskinan, dan kesenjangan. Sesuai dengan intruksi dan arahan dari Pj Bupati Jepara Edy Supriyanta, Nexson menyebut, saat ini DLH tengah fokus terhadap pengembangan hutan kota dengan luas 3,5 hektare.

“Penanaman sudah dimulai sejak tahun lalu. Saat ini sudah mulai tumbuh. Namun butuh waktu lagi karena ini jangka panjang ditambah area. Karena areanya berat untuk ditanamai,” sebutnya.

Di samping pengembangan lahan RTH, pihaknya mengaku akan membagikan bibit ke warga sesuai kebutuhan dan permintaan. Seperti, pucuk merah, tabebuya, dan sejumlah tanaman buah maupun tanaman keras yang. Bibit itu dibagikan secara gratis.

Baca juga:  Kerja Sama dengan Perhutani, Pemkab Jepara Manfaatkan Lahan Seluas 5.027 Hektare

DLH sengaja memilih tanaman tersebut lantaran, dianggap bisa menyerap gas karbon dan juga tahan lama. Sementara itu, terkait kondisi hutan kota yang pertumbuhannya belum maksimal. Pihaknya mengatakan, saat ini baru tahap proses pertumbuhan.

“Hanya tanaman konservasi dan sejumlah tanaman buah. Kami masih proses pembibitan supaya nanti ketika tiba di musim hujan bisa dimaksimalkan kembali,” pungkasnya. (cr4/fat)