Sultan: Judi Online adalah Penyakit Sosial

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X
Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X. (MUHAMMAD ABU YUSUF AL BAKRY/JOGLO JOGJA)

YOGYAKARTA, Joglo Jogja – Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono X menyoroti maraknya judi online yang semakin meresahkan masyarakat. Menurutnya, judi online merupakan penyakit sosial yang dapat menjangkiti siapa saja, tanpa memandang status sosial.

Sri Sultan mengatakan, judi online tidak memberikan peluang menang yang realistis dan justru bersifat adiktif. “Sehingga tindakan ini, menarik pelaku baik yang menang maupun yang kalah untuk terus terlibat, yang akhirnya berujung pada kerugian finansial yang signifikan,” ungkapnya, belum lama ini.

Pihaknya menekankan, perjudian, baik online maupun offline, merupakan penyakit sosial yang dapat menjangkiti siapa saja, tanpa memandang status sosial. Pihaknya menyebut, terdapat banyak oknum dari tukang becak hingga pegawai negeri yang mungkin saja terlibat.

Baca juga:  Libur Produktif, Kreasi Literasi Anak Digelar

“Apabila tidak memiliki tekad kuat untuk menghindari godaan mencari kekayaan instan, maka bisa saja terjerumus melalui jalan pintas ini. Oleh karena itu, perjudian online membawa dampak negatif yang serius bagi masyarakat, terutama bagi generasi muda,” tuturnya.

Selain menyebabkan kecanduan, judi online juga dapat menyebabkan kemiskinan. Akses yang mudah melalui gadget membuat judi online semakin berbahaya dan sulit dihindari oleh masyarakat. Judi online sangat memprihatinkan karena kekayaan yang ada pada kita sama dengan yang ada pada bandar.

“Banyak bandarnya, jadi mesti kalah kalau ikutan. Judi itu, kalau menang pasti ingin kembali lagi, kalau kalah ya pasti kembali lagi juga. Jadi akhirnya, apa yang dimiliki akan habis,” imbuhnya.

Baca juga:  Operasi Patuh Progo Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas

Gubernur DIY juga menyerukan penegakan hukum yang lebih tegas terhadap pelaku judi online. Pihaknya mendorong adanya regulasi yang lebih kuat untuk mencegah dan menjerat bandar judi online. “Pengawasan dari masyarakat dan lingkungan sekitar juga sangat penting untuk mencegah praktik perjudian ini,” paparnya.

Sri Sultan menjelaskan, banyak kasus perjudian tidak langsung yang terjadi di masyarakat, di mana pelaku menggunakan tangan ketiga untuk berjudi. “Misalnya, pegawai negeri yang tidak langsung, tapi berbagi dengan temannya. Mereka mungkin tidak langsung berjudi, tetapi risiko online ini pasti lebih banyak kalahnya,” pungkasnya. (suf/abd)