SMP 2 Undaan Fokus Raih Adiwiyata Nasional

KOMPAK: Siswa-siswi SMP 2 Undaan nampak semangat saat mengelola sampah organik menjadi pupuk kompos yang bermanfaat, beberapa waktu lalu. (DOK. PRIBADI/JOGLO JATENG)

KUDUS, Joglo Jateng – Sekolah Menengah Pertama (SMP) 2 Undaan, Kudus tengah menyiapkan diri menuju penghargaan adiwiyata tingkat nasional. Berbagai upaya dilakukan mulai dari sosialisasi Gerakan Pola Hidup Bersih dan Sehat (GPHBS), kampanye konservasi energi, aksi tanam lingkungan hidup hingga pengelolaan sampah.

Koordinator Adiwiyata Budaya Lingkungan SMP 2 Undaan, Anggraini Kumala Sari menjelaskan, adiwiyata nasional sekolahnya akan diajukan awal 2025. Saat ini, kata dia, masih tahap persiapan. Mulai dari pemberkasan, sosialisasi dan konsistensi atas gerakan penghijauan serta kelola sampah.

“Harapan dan targetnya semoga lolos akreditasi nasional. Setelah lolos nantinya akan berlanjut untuk mencari sekolah binaan dan mengajukan ke jenjang Adiwiyata Mandiri,” jelasnya kepada Joglo Jateng.

Baca juga:  Sikapi dengan Bijak Tradisi Perayaan Kelulusan Siswa

Anggraini menambahkan, sosisalisasi GPHBS berupa pemilahan sampah dan pengelolaannya dilakukan oleh guru bersama 160 kader adiwiyata. Kader ini merupakan siswa-siswi kelas 7, 8 dan 9 SMP 2 Undaan.

“Tentu dipilih yang paling rajin. Karena mereka memiliki tugas mengingatkan teman-temannya agar peduli lingkungan,” ujarnya.

Selain itu, kampanye konservasi energi air juga dilakukan kader adiwiyata bersama seluruh siswa. Yaitu keliling bawa spanduk bertuliskan ajakan hemat energi.

“Mereka juga membuat stiker bertuliskan matikan lampu, matikan kran dan lainnya sebagai upaya hemat energi. Stiker ini ditempelkan di rumah warga dan di beberapa sudut sekolah. Tentunya bertujuan untuk mengajarkan dan mengimbau supaya menghemat penggunaan air dan energi,” imbuhnya.

Baca juga:  Pojok Cerita di Perpustakaan Taman Pintar Tingkatkan AKM

Aksi tanam lingkungan hidup juga terus dilakukan. Baik di lingkup internal sekolah ataupun di momen Hari Lingkungan Hidup bersama masyarakat dan pemerintah desa setempat.

“Setiap awal tahun pembelajaran, kami bersama melakukan pembibitan dan pemeliharaan tanaman baru. Yaitu jenis tanaman yang mudah ditanam seperti kacang-kacangan, bunga krokot, dan tanaman lainnya yang mudah ditanam dan dirawat,” bebernya.

Anggraini mengatakan, pengelolaan sampah organik dan anorganik juga dilakukan bersama para siswa. Yaitu pembuatan kompos dan hasil karya dari sampah anorganik.

“Pembuatan kompos ini dilakukan dari sampah organik berupa daun yang jatuh. Caranya yaitu mencampur antara daun dan larutan khusus yang diaduk kemudian dimasukkan ke bak komposter. Prosesnya sekitar 4 bulan bahkan lebih. Sementara sampah anorganik diolah menjadi karya tanaman hias dari bahan bekas kertas, botol maupun plastik,” katanya. (cr1/fat)