Lumbung Mataraman, Upaya Peningkatan Kemandirian Pangan

MENANAM: Petani menyiapkan bibit padi siap tanam di persawahan Muaro Jambi, Jambi, beberapa waktu lalu. (ANTARA/JOGLO JOGJA)

YOGYAKARTA, Joglo Jogja – Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DIY terus berupaya menggiatkan kembali setiap kalurahan untuk menyediakan bahan pangan yang memadai melalui program Lumbung Mataraman. Sejak 2017, program ini bertujuan untuk meningkatkan ketersediaan pangan pemanfaatan Dana Keistimewaan.

Kabid Ketahanan Pangan DPKP DIY, Raden Bambang Dwi Witjaksono mengungkapkan, mulanya, program ini diterapkan di satu kabupaten untuk menjawab tantangan ketahanan pangan. Lumbung Mataraman mencakup berbagai kegiatan seperti alih fungsi lahan, adaptasi terhadap anomali iklim, dan regenerasi sumber daya manusia (SDM) di sektor pertanian.

“Program ini juga melibatkan berbagai jenis tanaman pangan, hortikultura, kolam ikan, dan kandang sapi, dengan tanaman seperti padi, cabai, terong, bawang merah, melon dan anggur,” ungkapnya, belum lama ini.

Baca juga:  Kemenag DIY: Lima Jemaah Haji Meninggal karena Komorbid & Cuaca Ekstrem

Pihaknya menambahkan, Lumbung Mataraman bertujuan mendorong kemandirian pangan masyarakat dan dapat diterapkan di kalurahan yang sudah siap. Setiap kalurahan diharapkan memiliki program ini, karena kalurahan yang menjalankannya akan mendapatkan bantuan dana dari Dana Keistimewaan. Agar program berjalan dengan baik, diperlukan lahan minimal 1 hingga 2 hektare, kelembagaan yang baik, rekam jejak pengelolaan pemerintahan yang berlanjut, serta dukungan dari kelompok tani (Gapoktan) setempat.

Contoh keberhasilan program ini dapat dilihat di beberapa kalurahan, seperti Kalurahan Kedungpoh di Gunungkidul yang menyulap lahannya menjadi pertanian melon premium, serta kebun buah di Lendah, Kulon Progo. Selain itu, di Yogyakarta sendiri terdapat sekitar 50 titik kabupaten/kota yang mengimplementasikan program ini.

Baca juga:  Padat Karya Diharapkan Tumbuhkan Ekonomi Masyarakat Bantul

“Di perkotaan, konsep urban farming seperti hidroponik dan lorong sayur mulai diterapkan dengan memanfaatkan lahan yang terbatas. Meski Yogyakarta memiliki sekitar 50 hektare lahan sawah di perkotaan, pemanfaatannya belum maksimal karena adanya pembangunan yang terus terjadi,” terangnya.

Program Lumbung Mataraman diharapkan dapat menjadi solusi untuk meningkatkan ketersediaan pangan, mendukung kemandirian pangan masyarakat, serta meningkatkan produksi dan kebutuhan pangan di DIY. Upaya ini memerlukan kerja sama seluruh lapisan masyarakat, pemerintah, dan kelompok tani untuk mencapai ketahanan pangan yang berkelanjutan.

Dengan langkah-langkah ini, Yogyakarta berkomitmen menciptakan ketahanan pangan yang lebih baik bagi warganya, menjadikan DIY sebagai contoh keberhasilan program kemandirian pangan di Indonesia. Lumbung Mataraman menjadi bukti nyata bagaimana sinergi antara pemerintah dan masyarakat dapat membawa perubahan positif dalam sektor pertanian dan ketahanan pangan. (suf/abd)