Roemah Difabel Ajak 4 Frater Dampingi Anak Difabel

MENDAMPINGI: Empat frater atau calon pastor dari Kongregasi Redemptoris Propinsi Indonesia bersama anak-anak difabel anak-anak difabel di Roemah Difabel Jalan Untung Suropati No.56 Kav.14, Kelurahan Manyaran, Kecamatan Semarang Barat, Kamis (4/7/24). (FADILA INTAN QUDSTIA/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Roemah Difabel mengajak empat frater atau calon pastor dari Kongregasi Redemptoris Propinsi Indonesia mendampingi anak-anak difabel selama sebulan. Empat frater itu terdiri dari Martinus Dendo Ngara, Alno Tukan, Molan Telumq, Ama Marapati.

Founder Roemah Difabel, B. Noviana Dibiantari R mengukapkan, empat frater itu merupakan sekelompok mahasiswa jurusan Teologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Mereka dikirim ke Roemah Difabel untuk menetap selama sebulan sekaligus melakukan kegiatan pengabdian sosial (pengabsos) sebagai bentuk kewajiban dari kampus.

“Selama sebulan mereka dari bangun tidur sampai tidur jadi berkegiatan dengan teman-teman difabel. Mereka lebih mendampingi mereka (anak difabel, Red.) seperti berolahraga bersama teman difabel yang nginap di sini, bersih-bersih, mandi dan masuk kelas etika, hidroponik, menjahit dan sebagainya,” ucap Noviana saat ditemui Joglo Jateng, Kamis (4/7/24).

Baca juga:  KKN MB Posko 4 UIN Walisongo Kenalkan Moderasi Beragama Lewat Peringatan 1 Muharram

Selain itu, lanjutnya keempat frater juga dilibatkan dengan kegiatan lingkungan. Misalnya, kegiatan Suronan, gereja bersama Orang Muda Katholik (OMK), doa bersama misa hingga ikut serta dalam rapat bersama pemerintah.

Tak hanya itu, mereka juga berkesempatan mengisi kelas agama Katolik secara bergantian. Sehingga ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh anak difabel soal agama lebih kuat.

“Misalnya ada undangan rapat mereka juga ikut mendampingi anak-anak difabel supaya mereka paham teman-teman bisa terlibat di pemerintahan juga untuk advokasinya. Biasanya kami juga ada kegiatan menuangkan eco enzim di sekitar jalan Untung Suropati,” kata Noviana.

Baca juga:  Mahasiswa KKN Posko 11 UIN Walisongo Ikut Turut Ikut Serta Dalam Kegiatan Posyandu Di Desa Kandri

Dengan adanya kegiatan menetap itu, pihaknya ingin memberikan sensibilitas difabel kepada keempat frater. Tujuannya agar mereka memahami cara berinteraksi serta mendampingi komunikasi anak difabel.

“Jadi setelah mereka nanti jadi Romo kepedulian itu ada terhadap kelompok yang lemah, miskin, tersingkir dan difabel (KLMTD),” imbuh Noviana.

Adapun aturan khusus yang perlu ditaati oleh para Frater, salah satunya, tidak diperkenankan memberi nomor kontak maupun akun media sosial kepada anak difabel. Hal itu diantisipasi supaya anak difabel tidak melakukan spam chat sehingga mengganggu aktivitas para Frater.

Baca juga:  Pemprov Jateng Gelontorkan Rp 5 M Guna Pembangunan Kantor Kejari

Salah satu Frater, Martinus Dendo Ngara mengaku penasaran dengan karakter anak difabel yang akan ia dampingi selama sebulan. Kesan pertama saat ia datang pertama kali di Roemah Difabel tak seperti yang ia bayangkan.

“Saya pikir mereka orang yang pasif dan membutuhkan effort agar kita yang kesana (mendekati, Red.). Tetapi sampai sini mereka yang menyambut kami duluan. Saya senang sekali dan tidak menyangka,” ujar dia.

Setelah bertemu langsung dengan anak-anak difabel, menurutnya, mereka adalah orang yang aktif dan pandai membangun relasi. Meski begitu, Martinus tetap perlu berusaha untuk mendekatkan diri ke anak difabel supaya lebih akrab. (int/adf)