Beri Kontribusi Nyata SDGs dengan Eco Enzyme

TUANG: Rektor UMY, Prof. Dr. Ir. Gunawan Budiyanto tengah menuangkan hasil eco enzyme sebanyak 100 liter ke danau kawasan Taman Firdaus UMY, belum lama ini. (HUMAS/JOGLO JOGJA)

DALAM upaya mendukung program Sustainable Development Goals (SDGs), Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) kembali menunjukkan kepeduliannya terhadap lingkungan dengan menuangkan 100 liter eco enzyme ke danau kawasan Taman Firdaus UMY. Ini merupakan bentuk bioremediasi atau perbaikan secara biologis

Rektor UMY, Prof. Dr. Ir. Gunawan Budiyanto menjelaskan, sebagai bagian dari komunitas green campus, upaya bioremediasi ditempuh sebagai metode perbaikan lingkungan secara biologis. Hal ini menunjukkan partisipasi aktif UMY dalam gerakan peduli lingkungan.

“UMY berkomitmen menjaga kesehatan diri, lingkungan, dan pergaulan. Kami menunjukkan cinta pada lingkungan dengan penggunaan eco enzyme di sekitar kampus agar tercipta kampus yang nyaman seperti taman, serta kampus sehat,” ungkapnya, belum lama ini.

Baca juga:  Orang Tua Diminta Rutin Cek Alur Pendaftaran PPDB

Pihaknya menambahkan, eco enzyme merupakan senyawa yang dihasilkan dari limbah organik. Eco enzyme mampu mempercepat proses dekomposisi bahan organik yang berbau tidak sedap, sehingga lebih ramah lingkungan.

“Apabila ditemukan genangan air atau sampah yang berbau, itu menandakan adanya mikroba jahat yang bisa menyebabkan penyakit. Oleh karena itu, penting untuk meningkatkan kualitas lingkungan dengan menambah mikroba baik yang akan membantu proses dekomposisi. Eco enzyme mampu menguraikan bahan organik yang berbau tidak sedap,” tuturnya.

Pihaknya berharap, inisiatif ini bisa menjadi contoh bagi perguruan tinggi lain di Indonesia mengenai pentingnya konsep lingkungan sehat untuk masa depan generasi mendatang. Ia juga mengajak seluruh masyarakat untuk turut menjaga dan merawat lingkungan.

Baca juga:  Gerakan Organikkan Jogja Tekan Sampah dari Hulu

Sementara itu, Dosen Agribisnis UMY, Ir. Diah Rina Kamardiani menjelaskan, eco enzyme dibuat dari limbah kulit buah yang dicampur dengan molase (sisa dari tetes tebu) atau gula merah murni, serta air dengan perbandingan 1:3:10.

“Proses fermentasi minimal berlangsung selama 3 bulan dengan menggunakan minimal 5 jenis kulit buah, kecuali durian dan alpukat. Buah jeruk atau jeruk nipis adalah yang terbaik karena aromanya yang segar,” tuturnya.

Pihaknya menyebut, eco enzyme memiliki banyak manfaat, seperti untuk perawatan kulit, penyembuhan luka bakar, pembersihan kolam, dan membersihkan kloset. “Daripada membuang limbah rumah tangga seperti kulit buah yang dapat mencemari lingkungan, lebih baik dimanfaatkan menjadi eco enzyme,” pungkasnya. (suf/abd)