Opini  

Kemasan Saset: Masalah Lingkungan yang Tersembunyi di Balik Kenyamanan

Nadya Destin Anjelya

Oleh: Nadya Destin Anjelya
Mahasiswa Program Studi Teknik Lingkungan UIN Walisongo Semarang

Di tengah kesibukan dan gaya hidup modern yang serba cepat, kemasan saset telah menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian kita. Mulai dari produk makanan hingga kosmetik yang menawarkan kenyamanan dan kemudahan penggunaannya. Namun, di balik kenyamanan tersebut, tersembunyi masalah lingkungan yang serius. Kemasan saset yang praktis ternyata menyimpan dampak negatif yang signifikan terhadap lingkungan.

Kemasan saset merupakan jenis kemasan fleksibel yang biasanya terbuat dari bahan plastik, kertas, aluminium, atau kombinasi ketiganya. Kemasan ini dirancang untuk menyimpan dan melindungi produk dalam jumlah kecil atau sekali pakai. Ukurannya yang kecil membuat saset mudah dibawa dan digunakan, serta ideal untuk produk sekali pakai seperti bumbu masak, minuman serbuk, sampo, atau cemilan sekalipun. Seringkali digunakan untuk promosi atau sampling produk, dimana sachet akan memudahkan konsumen dalam mencoba produk baru tanpa harus membeli dalam jumlah besar. Selain itu, kemasan sachet memastikan produk tetap higienis dan terhindar dari kontaminasi.

Konsumen lebih memilih produk berkemasan saset karena mempertimbangkan beberapa hal, diantaranya harga yang ekonomis, mudah didapatkan, memudahkan takaran pemakaian, dan pastinya praktis. Dengan menggunakan kemasan saset, produsen maupun konsumen mendapatkan keuntungan yang sama. Produsen dapat memperoleh keuntungan yang besar melalui pola konsumen yang mempertimbangkan alasan di atas. Kemudahan dan kenyamanan ini ditawarkan produsen untuk menarik minat konsumen. Disini pilihan ada ditangan konsumen, yang mana mereka berhak untuk memilih barang yang akan dibeli.

Masyarakat yang lebih sadar lingkungan cenderung memilih produk dengan kemasan berkelanjutan dan mendukung kebijakan yang mendukung pengurangan limbah plastik. Perubahan ini menunjukkan bahwa kesadaran kolektif dapat menjadi kekuatan pendorong dalam upaya mengurangi dampak negatif kemasan saset terhadap lingkungan. Kesadaran masyarakat terhadap dampak penggunaan kemasan saset akan semakin meningkat seiring dengan maraknya informasi tentang bahaya limbah plastik bagi lingkungan. Banyak individu mulai menyadari bahwa kemasan sekali pakai ini, meskipun praktis, menimbulkan masalah serius karena sulit terurai dan sering berakhir mencemari lautan dan tanah.

Baca juga:  Aktualisasi Nilai Pancasila pada Gen-Z di Era Globalisasi

Sisi Gelap Kemasan Saset

Dengan beberapa kenyamanan yang ditawarkannya, kemasan jenis ini semakin banyak diminati. Produsen pastinya tidak akan menyiakan kesempatan ini untuk memperbesar keuntungan bagi perusahaannya. Semakin banyak peminatnya, maka akan semakin besar produksi yang akan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan konsumen. Disisi lain juga terjadi peningkatan, yaitu peningkatan jumlah sampah saset. Karena kemasannya yang relativ kecil, sampah jenis ini banyak diabaikan.

Menurut data dari Sungai Watch, pada tahun 2023 terdapat 10 besar perusahaan yang menyumbang sampah saset di Indonesia. Diantaranya yaitu Wings, Unilever, PT Santosa Jaya Abadi, Indofood, Siantar Top, Mayora, Ajinomoto, P&G, Mama Lemon, dan Forisa. Data ini diambil dari penelitian tahun 2023 yang dilakukan oleh Sungai Watch, yaitu organisasi nirlaba yang bertujuan mencegah sampah plastik mencemari laut melalui pembersihan sungai. Mereka melakukan pemasangan jarring-jaring untuk menangkap sampah yang terbawa aliran sungai hingga kemudia dikumpulkan, dipilah, dan diolah sesuai jenisnya. Lingkup pergerakannya berada diwilayah Bali dan Jawa.

Dari total sampah yang teridentifikasi sebanyak 6% diantranya adalah sampah kemasan saset. Meskipun terbilang kecil, namun itu hanya sampah saset yang berhasil diidentifikasi. Selain itu, 6% tersebut adalah sampah yang mengalir di sungai, tidak termasuk sampah yang telah memasuki lautan, TPA, hingga rumah tangga.

Sampah sachet, terutama yang terbuat dari plastik dapat menjadi masalah karena bahan tersebut sulit terurai. Kemasan sachet memiliki beberapa lapisan tergantung kegunaannya. Lapisan-lapisan ini sulit dipisahkan hingga membuat proses daur ulang menjadi rumit. Sachet dirancang untuk tahan lama dan kuat, sehingga tidak mudah rusak atau terurai oleh bakteri dan proses alami lainnya. Sehingga proses penguraiannya membutuhkan waktu piluhan hingga ratusan tahun.

Baca juga:  Cinta Tanah Air: Bukan hanya Sebuah Perasaan, tetapi juga Tindakan

Ketika kemasan sachet terurai, mereka tidak sepenuhnya hancur. Sebaliknya, mereka terpecah menjadi partikel plastik yang lebih kecil yang dikenal sebagai mikroplastik. Hal ini menyebabkan pencemaran lingkungan yang serius, terutama di perairan dan tanah. Mikroplastik yang mencemari tanah dan air akan masuk ke dalam rantai makanan hingga membahayakan hewan dan manusia.

Mengurai Masalah Sampah Sachet dengan Solusi Berkelanjutan

Masalah ini tidak akan teratasi bila perusahaan terus memproduksi produk berkemasan saset. Sampah yang telah terurai bahkan menimbulkan masalah baru yaitu mikroplastik. Meskipun demikian, menghentikan produksinya juga juga akan berdampak kemana-mana, mulai dari menurunya minat konsumen, lapangan pekerjaan yang berkurang, hingga menurunkan pendapatan ekonomi negara.

Seiring dengan meningkatnya kesadaran akan masalah ini, berbagai upaya dilakukan untuk mengurangi dampak lingkungan dari kemasan sachet. Adanya kolaborasi antar pihak dalam mengatasi masalah ini sangatlah diperlukan. Dari mulai produsen, konsumen, hingga pemerintah harus sadar betul akan akar permasalahannya. Jika produsinya tidak bisa dihentikan maka perlu adanya inovasi material yang  lebih ramah lingkungan untuk kemasan saset. Bahan-bahan ini mungkin lebih mudah didaur ulang atau bahkan dapat terurai secara alami tanpa meninggalkan jejak mikroplastik.

Untuk saat ini, sudah terdapat teknologi yang dapat mengolah sampah saset menjadi pelet plastik baru untuk bahan baku pembuatan produk plastik baru. Menelaah lebih lanjut, teknologi ini dirasa mungkin bisa mengurangi sampah saset yang telah ada. Namun tetap saja hasil dari pengolahan tersebut berupa pelet plastik untuk membuat plastik baru. Masalah saset pastik ini mungkin bisa dihentikan, namun hanya sementara. Kedepannya pasti akan timbul masalah baru terkait sistem pengolahan tersebut.

Peran masyarakat dalam mengurangi timbunan sampah saset sangat diperlukan. Kepraktisan yang ditawarkan mungkin manis rasanya, namun kepahitannya bumi yang rasa. Pola konsumsi masyarakat harus diperbaiki. Menggunakan produk berkemasan saset rasanya boleh-boleh saja, namun tidak selamanya. Kesadaran akan masalah ini harus ditumbuhkan disetiap individu. Kreativitas masyarakat perlu dikembangkan dalam pengolahan sampah saset yang mereka hasilkan.

Baca juga:  Aktualisasi Nilai Pancasila pada Gen-Z di Era Globalisasi

Saat ini sudah banyak upaya yang dilakukan untuk mengolah sampah saset. Salah satunya yaitu pembuatan ecobrick. Ecobrick adalah salah satu metode daur ulang sampah yang kreatif dengan tujuan mengurangi limbah plastik, terutama limbah saset. Cara pembuatan ecobrick umumnya dengan pengisian botol plastik dengan sampah plastik yang tidak bisa terurai, seperti kemasan saset, kantong plastik, dan bahan sintetis lainnya. Botol-botol ini diisi hingga padat sehingga menjadi kuat dan tahan lama. Selanjutnya botol-botol tersebut dapat digunakan membuat barang-barang kamu perlukan, seperti meja, kursi, hingga pagar taman di halaman rumahmu.

Selain itu, kontribusi pemerintah dalam mengedukasi masyarakat terkait pengelolaan sampah yang mereka hasilkan sangat diperlukan, terkhususnya sampah saset. Penyuluhan dan pelatihan perlu ditingkatkan lagi untuk mengatasi masalah ini. Dukungan terhadap inovasi kemasan saset sangat dinantikan. Dukungan finansial dan kebijakan yang mendorong inovasi material dan teknologi daur ulang dapat membantu mempercepat pengembangan solusi ramah lingkungan untuk kemasan saset.

Kemasan sachet, meskipun praktis dan ekonomis, ia dapat membawa dampak lingkungan yang signifikan. Polusi plastik, mikroplastik, dan tantangan pengelolaan sampah adalah beberapa masalah yang ditimbulkan oleh kemasan ini. Melalui inovasi material, program daur ulang, edukasi masyarakat, dan dukungan kebijakan dari pemerintah, kita dapat memulai penanganan masalah ini dengan lebih efektif. Dengan kolaborasi yang baik antara pemerintah, industri, dan masyarakat, diharapkan dapat menemukan solusi yang memungkinkan kita untuk tetap menikmati kenyamanan kemasan sachet tanpa merusak lingkungan. (*/gih)