Pakar: Polemik Kecurangan PPDB Kerap Terjadi Tiap Tahun

SUASANA: Ratusan wali murid saat berkonsultasi soal PPBD SMP 2024 di Kantor Dinas Pendidikan Kota Semarang Jalan Dr. Wahidin No.118, Kelurahan Jatingaleh, Kecamatan Candisari, beberapa waktu lalu. (FADILA INTAN QUDSTIA/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Berbagai persoalan terjadi selama Pendaftaran Peserta Didik Baru (PPDB) 2024 di Kota Semarang. Mulai dari dugaan praktik titip menitip kursi, piagam palsu hingga siswa berprestasi yang tidak diterima di sekolah favorit melalui jalur prestasi.

Menanggapi hal itu, Pakar Pendidikan sekaligus Dekan Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni (FPBS) Universitas PGRI Semarang (Upgris) Ngasbun Egar menyebut bahwa polemik kecurangan tersebut memang kerap terjadi setiap tahun. Salah satunya adalah karena ada keinginan yang kuat dari para orang tua untuk memasukkan anaknya ke sekolah negeri.

“Pertimbangannya memang berharap mereka tidak terlalu mengeluarkan banyak biaya di sekolah negeri,” ucapnya saat dihubungi Joglo Jateng, belum lama ini.

Baca juga:  KKN MB Posko 4 UIN Walisongo Kenalkan Moderasi Beragama Lewat Peringatan 1 Muharram

Menurutnya, banyak orang tua tak ingin memasukkan anaknya ke sekolah swasta karena harus mengeluarkan biaya yang lebih besar. Sehingga animo untuk mendaftar di sekolah negeri meningkat.

Selain itu, kata Ngasbun, ada kemungkinan mereka juga merasa kesulitan saat proses memasukkan data ke dalam sistem PPDB. Sehingga kemudian menempuh tindakan yang patut disesalkan.

“Tentu ini ironis karena ini terjadi di lingkungan pendidikan. Karena sesungguhnya pendidikan menjadi tujuan pentingnya membentuk karakter kepribadian yang baik, yang mana kita inginkan hal itu pada anak,” ujarnya.

Baca juga:  7.108 Warga Semarang yang Tercoklit tidak Memenuhi Syarat

Akan tetapi, lanjut dia, pada kenyataannya para wali muridlah yang menggunakan cara yang tidak baik. Menurutnya, hal ini justru menjadi kontradiktif karena mereka menjadi menyalahgunakan ketentuan dari penyelenggara PPBD.

Dalam hal ini, Ngasbun menyadari bahwa di setiap kebijakan pasti ada kelebihan maupun kekurangannya. Termasuk pada sistem zonasi. Pada sisi baiknya, jalur ini memberi kesempatan pada orang tua untuk menyekolahkan anaknya di lingkungan terdekat.

“Secara umum tujuannya bagus, ini bisa efektif dari sisi waktu dan jarak tempuh perjalanan dari rumah ke sekolah. Begitu pun sebaliknya. Bisa menghitung risiko sehingga dari sisi ongkos jadi lebih hemat BBM,” ungkapnya.

Baca juga:  Jadi Orang Tua Asuh Vita melalui Gerbang Harapan

Sisi buruknya, lanjut Ngasbun, adalah menyulitkan pihak sekolah karena sudah tidak punya lagi kesempatan menyeleksi calon murid terbaik dari sisi prestasi. Baik dalam prestasi akademik maupun non akademik.

“Konsekuensi proses dan hasilnya berbeda, dan (prestasi, Red.) sekolah menurun. Dahulu sebelum zonasi masing-masing sekolah bisa melakukan seleksi berdasarkan prestasi. Misalnya anak-anak pintar bisa terarah ke satu sekolah tertentu yang dipandang favorit oleh masyarakat,” paparnya.

Meski begitu, dirinya mengajak masyarakat untuk mengikuti ketentuan. Semua pihak, termasuk penyelenggara harus menjalankan aturan yang sudah dibuat dengan sebaik-baiknya. (int/adf)