Peringati Jogja Kembali, Seniman Muda Sukseskan Historical Orchestra

KREASI: Seniman muda saat berakting dalam pagelaran Jogja Historical Orchestra di Taman Budaya Embung Giwangan, belum lam ini. (RIZKY ADRI KURNIADHANI/JOGLO JOGJA)

KOTA, Joglo Jogja – Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayaan) Kota Yogyakarta menggelar Jogja Historical Orchestra bertajuk potret juang janur kuning dalam Rangka Peringatan Jogja Kembali di Taman Budaya Embung Giwangan, belum lama ini. Kegiatan itu digelar sebagai media pembelajaran sejarah dengan melibatkan seniman muda.

Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Budayaan) Kota Yogyakarta Yetti Martanti mengatakan, ini merupakan pertunjukan yang mengemas peristiwa bersejarah Jogja Kembali dengan pendekatan yang kontekstual. Supaya dapat dinikmati serta diterima oleh semua kalangan.

“Jogja Historical Orchestra ini sudah terselenggara keempat kalinya. Pertunjukan ini sebagai media belajar sejarah, yang syarat akan nilai-nilai dan narasi perjuangan dengan melibatkan para seniman muda serta anak-anak di Kota Yogyakarta yang tergabung dalam Langen Carita dan Swara Chamber Orchestra,” ungkapnya, belum lama ini.

Baca juga:  Banyumas 10.000 Lengger Bicara Masuk Rekor Dunia

Ia menambahkan, salah satu yang spesial dalam Jogja Historical Orchestra adalah kolaborasi apik dari para seniman usia anak-anak hingga usia dewasa. Khususnya dalam mempresentasikan dan menyampaikan pesan dari nilai sejarah serta budaya berdasarkan peristiwa Jogja Kembali.

“Untuk pemain banyak yang diikuti oleh anak-anak SD hingga SMP, yang dikolaborasikan dengan seniman usia dewasa sehingga menciptakan penampilan yang sangat menarik. Harapannya, pertunjukan ini menjadi ruang ataupun media yang sifatnya edukatif dan menghibur,” tambahnya.

Sementara itu, Penjabat (Pj) Wali Kota Yogyakarta Sugeng Purwanto mengungkapkan, Jogja Historical Orchestra menjadi satu kegiatan untuk menumbuhkan dan memupuk rasa nasionalisme masyarakat, khususnya anak-anak muda agar tidak lupa akan sejarah perjuangan bangsa Indonesia untuk mempertahankan persatuan Indonesia.

Baca juga:  BKSAP DPR RI Gelar BKSAP Day di ISI Yogyakarta: Diplomasi Budaya untuk Memperkuat Hubungan Internasional

“Melalui momentum acara ini, kita mengenang kembali sejarah Yogyakarta saat menjadi pusat pemerintahan negara Republik Indonesia pada tahun 1949. Dengan harapan, kita dapat merasakan semangat dan atmosfer perjuangan pada saat itu, khususnya anak muda yang akan melanjutkan tongkat estafet pembangunan,” ujarnya.

Sugeng juga mengapresiasi keterlibatan dan kolaborasi anak-anak dalam Jogja Historical Orchestra, yang juga menjadi satu cerminan akan istimewanya Yogyakarta sebagai kota pendidikan dan budaya. “Sehingga aktivitas, kreativitas, dan ketangkasan yang sudah dipupuk sejak anak-anak ini harus terus melestarikan budaya adiluhung yang kita dimiliki,” terangnya.

Baca juga:  Langkah Darurat, TPA Piyungan Kembali Difungsikan

Di sisi lain, penonton yang merupakan mahasiswi Universitas Ahmad Dahlan Iris dan Iftitah menceritakan, ini merupakan pengalaman pertamanya menyaksikan secara langsung Jogja Historical Orchestra.

“Ini menjadi pengalaman yang berkesan, dengan pertunjukan yang menghibur sekaligus bisa belajar sejarah tentang Yogyakarta. Dengan latar tempat yang juga sangat bagus di Taman Budaya Embung Giwangan, semoga bisa terus berlanjut dan ditambah lagi event sejarah dan budaya seperti ini,” pungkasnya. (riz/abd)