Figur  

Promosikan Kebudayaan lewat Teknologi

Masning Salamah
Masning Salamah. (DOK. PRIBADI/JOGLO JOGJA)

DI era teknologi digital saat ini, kebudayaan seolah tergerus oleh zaman. Namun, hal itu ditepis oleh Masning Salamah, calon mahasiswa S2 Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Gadjah Mada (UGM). Ia mengatakan, teknologi merupakan peluang untuk lebih masif membumikan kebudayaan.

“Tidak tergerus, justru di era digital ini kebudayaan makin tumbuh. Dulu waktu aku masih SMP atau SMA jarang anak muda itu pakai kebaya atau pakaian tradisional lainnya, sekarang sudah banyak,” ungkapnya, beberapa waktu lalu.

Di banyak platform media sosial seperti Instagram, Tik Tok, dan lainnya, kata Masning, banyak anak-anak muda yang mulai aktif memamerkan budaya. Disadari atau tidak, hal semacam ini adalah wujud dari promosi kebudayaan itu sendiri.

Baca juga:  Beri Motivasi pada Remaja lewat Duta GenRe

“Sederhana, aku melihat kalau misal tren sekarang, anak muda sekarang itu mereka sudah mulai sadar kebudayaan tradisional. Mereka itu bangga dengan budaya mereka. Platform digital mestinya bisa digunakan untuk mempromosikan budaya,” ujarnya.

Perempuan asal Lamongan ini juga turut berbagi perspektif kenapa di era modern ini budaya masih memegang peranan penting. Hal itu dikarenakan bahwa kebudayaan adalah akar peradaban.

Berdasarkan pengalaman belajar di kampus, dengan mengutip pendapat Profesor Koentjaraningrat, ilmuan budaya Universitas Indonesia (UI), kebudayaan merupakan hasil olah rasa manusia. Artinya, ia lahir dari pergulatan panjang dari realitas manusia itu sendiri.

Baca juga:  Usia Tua Bukan Penghalang Tetap Berkarya

“Dari berbagai ilmu yang aku pelajari, aku melihat kalau budaya itu akar peradaban. Dan budaya itu pasti terdiri dari hal-hal yang interdemensional dan substansial. Jadi menurutku, ketika kita belajar budaya, kita belajar manusia itu sendiri,” terang Masning.

Oleh karena itu, ia pun menekankan agar era digital saat ini dimanfaatkan sebagai suatu kemewahan menyebarkan kebudayaan. Saat ini, Masning aktif berbagi berbagai kebudayaan dari berbagai daerah melalui platform media sosial yang ia gunakan. (nik/abd)