Mahasiswa UGM Kembangkan Batako Enviroblock dari Sampah Plastik

TUNJUKKAN: Mahasiswa UGM tengah menunjukkan Batako Enviroblock yang telah dibuat di halaman kampus, Senin (8/7/24). (RIZKY ADRI KURNIADHANI/JOGLO JOGJA)

LIMA mahasiswa Universitas Gajah Mada (UGM) Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKM-K), menyulap sampah plastik yang tidak berguna menjadi batako Enviroblock. Dengan campuran limbah sekam padi dan oli bekas, hal ini dapat meminimalisir kerusakan akibat gempa.

Sejumlah mahasiswa tersebut adalah Yohanes Mario Putra Bagus (Teknik Fisika UGM), Shafa Zahra Aulia (Kimia UGM), Ratri Dwiyanti (Akuntansi UGM), Rakha Faiq Muyassar (Teknik Industri UGM) dan Mohammad Ridwan (Teknik Sipil).

Yohanes Mario Putra Bagus mengatakan, terbuatnya batako Enviroblock sebagai bentuk peduli dan keprihatinan khususnya yang berada di Yogyakarta. Karena, banyak Tempat Pembuangan Sampah (TPS) yang mengalami over kapasitas.

Baca juga:  Usulkan Calon di Pilkada dari Golkar

“Kami melakukan dampak gempa bumi secara arsitek tual dan ditemukan inovasi interlocking, karena batako yang ada di pasaran hanya mencampurkan semen, pasir dan sampah plastik. Namun, kita menambahkan limbah sekam padi yang mengandung kadar kalsium oksida tinggi dan oli sebagai pengikat hal berbahaya dari sampah plastik,” ungkapnya, Senin (8/7/24).

Sehingga, lanjutnya, output batako yang dihasilkan ini aman untuk mengantisipasi kerusakan yang begitu besar yang diakibatkan gempa. Namun, bukan berarti ini 100 persen tahan gempa.

“Untuk meminimalisir kerugian dan dampak gempa bumi, mengingat DIY dan Jateng ini 60 persen rawan gempa. Sehingga, kita menciptakan inovasi enviroblock sebagai mitigasi bencana yang sering terjadi,” tambahnya.

Baca juga:  Diskes DIY Imbau Masyarakat Galakkan Satu Rumah Satu Jumantik

Sementara, harga dari batako enviroblock tergolong lebih murah dari yang ada di pasaran. Dengan merogoh Rp 5.300 per picis sudah bisa membawa pulang batako yang dapat meminimalisir terjadinya gempa itu.

“Saat ini kita hanya melayani by order saja, di mana setiap harinya telah membuat 120 picis batako. Dengan memperoleh stok sampah plastik, dari tempat pembuangan di kawasan kampus UGM. Sementara untuk oli bekas, kami bekerja sama bengkel kendaraan bermotor di lingkungan kampus,” pungkasnya.(riz/sam)