Figur  

Siap Kembangkan Layanan BK Lebih Baik

Kamila Atsil
Kamila Atsil. (DOK.PRIBADI/JOGLO JOGJA)

DALAM gemuruh semangat yang membara, seorang remaja bernama Kamila Atsil, bertekad kuat mengubah wajah layanan bimbingan konseling (BK) di Indonesia. Seperti pelita dalam gulita, ia hadir membawa cahaya perubahan, meretas jalan bagi generasi muda yang butuh arah dan panduan.

Bagaikan ombak yang tak kenal lelah menghantam pantai, tekadnya tidak tergoyahkan, siap menggulung setiap rintangan yang menghadang demi terciptanya layanan lebih baik dan bermakna.

Tumbuh dengan semangat petualang dan jiwa sosial tinggi, gadis kelahiran kelahiran Jogja 2006 ini, memiliki hobi yang beragam. Mulai dari mengikuti kegiatan sukarelawan hingga menulis sebagai content writer di komunitas online.

Semangatnya dalam mengejar berbagai tantangan baru mencerminkan karakternya yang dinamis dan penuh energi. “Saya tidak hanya aktif dalam kegiatan luar ruangan, tetapi juga memiliki visi besar untuk meningkatkan kualitas BK di Indonesia,” ungkapnya.

Baca juga:  Tetap Produktif meski Mengidap Kista di Usia Muda

Menurutnya, sistem BK di sekolah-sekolah saat ini masih belum mampu mengakomodasi kebutuhan siswa dengan baik. “Saya berharap di masa depan dapat mengembangkan BK agar bisa lebih mengayomi siswa-siswa di Indonesia,” ujarnya.

Dara berparas cantik ini mengungkapkan, keprihatinannya terhadap banyaknya permasalahan siswa yang belum dapat diselesaikan dengan baik oleh guru BK di sekolah. Ia merasa masih banyak yang belum bisa memberikan rasa nyaman dan aman bagi seluruh siswa.

“Saya ingin merubah stigma itu dan membuat BK lebih terbuka dalam segala hal. Menurut saya BK berperan penting dalam mendampingi pembelajaran siswa, terutama dalam menangani masalah-masalah serius seperti bullying dan kekerasan seksual,” tegasnya.

Baca juga:  Keluar dari Zona Nyaman untuk Raih Impian

Baginya, Guru BK seharusnya dapat menangani masalah itu dengan tegas, bukan membiarkan ketimpangan terjadi, serta mampu mengambil tindakan tegas dan memberi ruang aman bagi korban. Maka, ia berharap dapat melihat perubahan signifikan dalam layanan BK di sekolah di masa depan. Kamila percaya dengan perubahan yang tepat, bisa menjadi pilar penting menciptakan lingkungan sekolah aman dan nyaman.

“Saat ini, masih banyak korban yang belum mendapatkan perlindungan yang cukup dari guru BK. Perjalanan ini tidak akan mudah, tetapi saya yakin bisa memperbaiki stigma guru BK yang seharusnya berperan sebagai pelindung dan safe zone kepada anak,” pungkasnya.(suf/sam)