Sikapi dengan Bijak Tradisi Perayaan Kelulusan Siswa

Kepala Sekolah SMA N 2 Rembang, Suhardi.
Kepala Sekolah SMA N 2 Rembang, Suhardi. (DYAH NURMAYA SARI/JOGLO JATENG)

REMBANG, Joglo Jateng – Perayaan kelulusan siswa SMA dan SMK di Rembang yang meniru upacara wisuda perguruan tinggi, lengkap dengan selempang, toga, disikapi dengan bijak oleh Kepala Sekolah SMA N 2 Rembang, Suhardi baru-baru ini. Sikap bijak diperlukan demi terwujudnya titik keseimbangan di antara dua hal mengandung unsur yang terasa berseberangan.

Suhardi mengatakan, pada siswa, acara selebrasi seperti itu merupakan bagian dari gejala psikologis masa remaja yang sedang mencari jati diri. Rasa ingin diakui eksistensinya, berpadu dengan keinginan mengabadikan kenangan selama tiga tahun bersama teman-teman seangkatan dalam satu sekolah, membuat mereka merasa perlu ada kemeriahan selebrasi.

Baca juga:  SMP 1 Jekulo Buka Posko Informasi Hingga Hari Terakhir

Pada sisi lain, sekolah tidak boleh menyelenggarakan acara wisuda yang menyerupai perguruan tinggi. Karena hal ini dapat memberatkan orang tua.

“Anak SMA berada dalam masa mencari identitas diri. Mereka cenderung mencoba hal-hal yang dianggap menyenangkan dan mengikuti tren. Namun, sekolah harus mengingatkan bahwa acara wisuda seperti perguruan tinggi belum waktunya bagi mereka dan umumnya memberatkan orang tua,” ujarnya.

Ia menambahkan, banyak keluarga di Jawa Tengah masih berada dalam kondisi ekonomi yang kurang mampu. Sehingga acara yang berlebihan seperti wisuda sekolah menengah dapat menambah beban finansial.

“Anak-anak ingin eksistensi mereka diakui dan diperhatikan. Namun pemerintah dan orang tua perlu mengarahkan mereka dengan memberikan larangan dan imbauan yang bijaksana. Acara wisuda sekolah menengah saat ini kurang bermanfaat dan cenderung memberatkan orang tua,” tambahnya.

Baca juga:  5 Sekolah di Kudus Kembali Raih Adiwiyata

Menurutnya, yang terpenting adalah sekolah mengarahkan keinginan para siswa. Agar perayaan kelulusan tidak terlalu berlebihan dan tidak memaksa mereka yang tidak mampu.

Di Kabupaten Rembang sendiri, acara pelepasan SMA resmi sudah tidak diadakan oleh sekolah. Jika ada, itu merupakan inisiatif siswa dan orang tua sendiri. Kemeriahan acara sebatas penampilan berbagai hasil kegiatan ekstrakurikuler di sekolah. Antara lain nyanyi, tari, musik, drama, deklamasi, atau ekshibisi keterampilan olahraga.

“Sekolah diimbau untuk tidak mengadakan wisuda. Acara perpisahan lebih baik diisi dengan kegiatan yang bermakna dan tidak memberatkan orang tua, namun hasrat siswa untuk berekspresi dapat tersalurkan sewajarnya” tegasnya.

Baca juga:  Hidupkan Lahan Kosong dengan Kebun Sayur

Ia berharap para siswa dan orang tua dapat memahami pentingnya mengikuti aturan ini demi kebaikan bersama dan menghindari dampak negatif. Seperti pemberontakan dan rasa tidak puas di kalangan siswa.

Dengan pendekatan yang bijaksana, ia yakin bahwa perayaan kelulusan dapat tetap berlangsung dengan baik. Tanpa menimbulkan beban berlebihan pada orang tua. (cr3/fat)