KUDUS, Joglo Jateng – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti meresmikan hasil revitalisasi bangunan di SD Muhammadiyah 1 Kudus dan SMP Negeri 2 Gebog, Kabupaten Kudus. Program ini merupakan wujud komitmen pemerintah dalam meningkatkan kualitas sarana dan prasarana pendidikan nasional.
Dalam sambutannya, Abdul Mu’ti mengapresiasi terselenggaranya program perbaikan fisik sekolah tersebut. Ia menilai, infrastruktur yang baik sangat krusial untuk menciptakan suasana belajar-mengajar yang aman, nyaman, dan berkualitas.
“Kami berharap agar dengan revitalisasi ini kita dapat memiliki sarana dan prasarana pembelajaran yang lebih baik untuk mendukung kegiatan belajar-mengajar, serta kegiatan ekstrakurikuler, intrakurikuler, dan kegiatan sekolah lainnya,” ujarnya di Kudus.
Anggaran Rp 16,9 Triliun
Mu’ti menjelaskan, revitalisasi sekolah merupakan bagian dari kebijakan strategis di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Pada 2025, pemerintah mengalokasikan anggaran besar untuk perbaikan satuan pendidikan di seluruh tanah air.
“Dengan alokasi anggaran sebesar Rp 16,9 triliun, kami dapat merealisasikan pembangunan untuk 16.175 satuan pendidikan di seluruh Indonesia. Alhamdulillah, sekitar 95 persen sudah selesai pada Desember lalu,” paparnya.
Selamatkan Cagar Budaya
Sementara itu, Kepala SD Muhammadiyah 1 Kudus, Indira Noor Khasanah bersyukur atas rampungnya perbaikan sekolahnya. Pasalnya, gedung yang direvitalisasi tersebut berstatus bangunan cagar budaya.
Sekolah ini menerima bantuan dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah sebesar Rp 553 juta. Dana tersebut digunakan untuk memperbaiki enam ruang kelas di bangunan lama.
“Alhamdulillah, peresmian revitalisasi bangunan sudah selesai. Bangunan yang direvitalisasi ini merupakan bangunan cagar budaya, ada enam ruang kelas yang direvitalisasi,” terang Indira.
Kondisi Sebelumnya Mengkhawatirkan
Indira mengungkapkan, sebelum perbaikan, kondisi fisik bangunan sangat memprihatinkan. Renovasi terakhir dilakukan sekitar tahun 2002-2003, sebelum status cagar budaya ditetapkan. Kerusakan meliputi plafon pecah hingga kayu atap yang lapuk, sehingga membahayakan siswa saat cuaca buruk.
“Kondisi ini tentu sangat membahayakan anak-anak, terutama saat hujan dan angin kencang,” tuturnya.
Kini, dengan wajah baru sekolah, pihaknya optimistis proses pembelajaran akan lebih optimal. Siswa dapat belajar dengan tenang tanpa rasa was-was.
“Harapan kami, dengan gedung yang sudah direvitalisasi ini, pembelajaran dapat berlangsung dengan aman dan nyaman. Sekarang kondisinya sudah bagus,” pungkasnya. (uma/fat)










