Kasus DBD Membeludak, Permintaan Fogging di Pemalang Tembus Ratusan Lokasi

petugas fogging Dinkes Pemalang bersiap sebelum melakukan pengasapan di Rusunawa Pemalang
FOGGING: Para petugas fogging Dinkes Pemalang bersiap sebelum melakukan pengasapan di Rusunawa Pemalang. (UFAN FAUDHIL/JOGLO JATENG)

PEMALANG, Joglo Jateng – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Pemalang kembali menjadi sorotan pascapandemi Covid-19. Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat mencatat setidaknya ada 168 permintaan fogging dari masyarakat sepanjang tahun 2025.

Kepala Dinkes Pemalang Wiji Mulyati, melalui Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), dr. Tetie Aida Wati mengungkapkan, lonjakan kasus pada 2025 dipicu oleh minimnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan.

Hal ini berdampak langsung pada tingginya permohonan pengasapan atau fogging ke dinas terkait.

“Pastinya karena kasus meningkat, jadi permintaan fogging juga mengikuti. Catatan kita total ada 168 permintaan sepanjang tahun lalu,” ujarnya di Pemalang, Selasa (20/1/26).

Dominasi Wilayah Perkotaan

Sementara itu, Kepala Seksi (Kasi) P2P Dinkes Pemalang, Surip menjelaskan detail sebaran kasus tersebut. Berdasarkan data Dinkes, bulan Juni menjadi puncak tertinggi masuknya surat permohonan dari warga.

Dominasi permintaan terjadi di wilayah perkotaan padat penduduk. Kecamatan Pemalang dan Kecamatan Taman menduduki peringkat pertama kasus terbanyak, disusul oleh Kecamatan Petarukan.

“Di pertengahan tahun, tepatnya Juni menjadi bulan terbanyak permintaan oleh masyarakat. Terutama di Kelurahan Mulyoharjo,” terang Surip.

Bahaya Kimia dan Fokus Sekolah

Meski permintaan tinggi, pihak Dinkes justru memberikan catatan kritis. Surip mengimbau agar masyarakat tidak serta-merta mengandalkan pengasapan. Langkah pencegahan melalui Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dinilai jauh lebih efektif dan aman.

“Kalau bisa jangan fogging, dampaknya langsung dengan lingkungan. Karena penyemprotan menggunakan bahan kimia yang berdampak langsung ke manusia,” tegasnya.

Sebagai langkah antisipasi di tahun 2026, Dinkes mengajak masyarakat dan institusi pendidikan untuk lebih waspada. Sekolah diminta rajin melakukan pengecekan tempat penampungan air, khususnya di toilet siswa.

Imbauan ini didasarkan pada data demografi kasus tahun 2025, di mana korban terbanyak berasal dari kalangan anak-anak dan remaja usia 5-14 tahun. (fan/sam)