Jepara  

Pemkab Jepara Siapkan 1.700 Hektare Lahan untuk Pengembangan Kopi

COBA: Peserta dari perwakilan Kepala OPD saat mencicipi kopi Sumanding di acara dialog ‘Ngopi Bareng Bupati Jepara’ dalam rangkaian Sumanding KopiFest 2026 di kawasan Hutan Pinus Buper Sumanding, Jumat (22/5/2026). (LIA BAROKATUS SOLIKAH/JOGLO JATENG)

JEPARA, Joglo Jateng – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara menyiapkan program konservasi dan pengembangan kopi dalam skala besar di wilayah lereng Muria. Melalui dukungan Corporate Social Responsibility (CSR), sekitar 1.700 hektare lahan direncanakan ditanami kurang lebih 400 ribu pohon selama periode 2026-2033.

Hal itu disampaikan Bupati Jepara Witiarso Utomo setelah dialog ‘Ngopi Bareng Bupati Jepara’ dalam rangkaian Sumanding KopiFest 2026 di kawasan Hutan Pinus Buper Sumanding, Jumat (22/5/2026) malam.

Menurut bupati, program konservasi tersebut tidak hanya berfokus pada tanaman kopi, tetapi juga tanaman pendukung lain seperti alpukat dan petai. Namun, sekitar 70 persen tanaman yang akan dikembangkan tersebut merupakan kopi.

“Untuk kopi ada CSR salah satu perusahaan yang akan melakukan konservasi, ada kopi, tanaman alpukat, ada petai. Periode 2026-2033 mereka akan melakukan konservasi sekitar 1.700 hektare dengan kurang lebih 400 ribu tanaman,” ujarnya pada Joglo Jateng, Sabtu (23/5/2026).

Ia mengatakan, pada tahap awal pengembangan akan difokuskan terlebih dahulu di wilayah Tempur. Hal itu karena Tempur menjadi salah satu desa penghasil kopi terbanyak di Jepara.

“Kita fokuskan dulu ke Tempur, setelah itu ke Sumanding,” terangnya.

Pemerintah daerah juga mulai menyiapkan penguatan pasar dan pengolahan hasil panen agar pengembangan kopi tidak berhenti pada tahap budi daya saja. “Kalau komunitas kopi semakin banyak, maka kita harus siap pasar dan pengolahannya,” jelas bupati.

Bupati menyebut, sosialisasi program sudah dilakukan kepada petani di Desa Tempur. Dari sekitar 1.400 kepala keluarga (KK), sebanyak 400 KK disebut siap terlibat dalam program tersebut.

“Kalau di seluruh Jepara, sekitar 14 ribu petani akan ikut terlibat dalam pengembangan kopi hingga tahun 2033,” tambahnya.