CARA melindungi keluarga dan masyarakat sangatlah beragam. Dan cara yang dipilih oleh Syafira Nur Cholifa adalah dengan belajar ilmu hukum. Gadis yang akrab dipanggil Fira ini merupakan mahasiswa hukum yang saat ini sedang menyelesaikan program PKPA (Pendidikan Khusus Profesi Advokat) di Universitas Negeri Semarang (UNNES).
“Fokus untuk magang adokat dan prepare UPA (Ujian Pendidikan Advokat). Tapi di luar itu, karena sudah hampir terikat perjanjian kerja/kontrak dengan BPS, jadi fokus buat cari pengamalan yang di luar dunia advokat,” ungkapnya, Senin (3/10).
Gadis kelahiran Desember 1999 itu berharap bisa melindungi keluarga besarnya kelak ketika sudah legal menjadi seorang advokat. Selain itu ia mengungkapkan dari ilmu hukum ia menemukan banyak pelajaran, di antaranya adalah menjunjung tinggi rasa empati kepada sesama manusia.
“Saya ingin memberikan pandangan ke orang lain bahwa pengacara itu tidaklah membela yang salah kemudian dibela, itu enggak begitu walaupun prakteknya tetap ada. Tapi dari hukum saya justru mendapat banyak ilmu, di mana semakin tinggi rasa empati dan simpati juga mengajarkan saya rasa memanusiakan manusia,” jelasnya.
Disisi lain, Fira mengaku cukup sedih melihat kondisi hukum di Indonesia saat ini, di mana banyak penegak hukum justru menjadi seorang tersangka dalam kasus yang seharusnya dia tegakkan. Sebagai generasi selanjutnya, ia mengaku kasus tersebut justru memotovasi ia untuk bertekad ingin menjadi pribadi yang bisa menegakkan hukum di Indonesia ini dengan lebih baik.
“Sebenernya sangat disayangkan, tapi justru ini membuat saya teringat dengan satu kalimat Mochtar Kusumaatmadja dalam satu ungkapkan berkata bahwa hukum tanpa kekuasaan adalah angan-angan, dan kekuasaan tanpa hukum adalah kelaliman,” ujarnya.
“Jadi, itulah mengapa kembali juga kepada kode etik profesi, dimana jika kita sudah berikrar untuk berjanji menjalani tugas dan amanah itu sesuai dengan peraturan yang ada, maka di situlah kesanggupan kita untuk memenuhi amanah itu. Dan perlu sekali dalam menjalani setiap profesi harus mengutamakan konsistensi, kejujuran dan juga kemanusiaan,” imbuhnya. (luk/gih)










