Teliti Penerapan Nilai-Nilai Tasawuf dalam Pelaksanaan Konseling, Heri Berhasil Raih Gelar Doktor

Heri Saptadi Ismanto SPd MPd
Heri Saptadi Ismanto SPd MPd Kons Dosen Prodi Bimbingan dan Konseling Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) berhasil raih gelar doktor Bimbingan dan Konseling di Pascasarjana Universitas Negeri Semarang (UNNES), Senin (25/01/2021). (HUMAS / JOGLO JATENG)

SEMARANG – Heri Saptadi Ismanto SPd MPd Kons Dosen Prodi Bimbingan dan Konseling Universitas PGRI Semarang (UPGRIS), Senin (25/01/2021) berhasil raih gelar doktor Bimbingan dan Konseling di Pascasarjana Universitas Negeri Semarang (UNNES).

Heri sukses dengan disertasi yang berjudul Penerapan Nilai-Nilai Tasawuf dalam Pelaksanaan Konseling Terhadap Konseli yang Memiliki Perilaku Seks Berisiko. Selama merampungkan disertasi Heri dibimbing promotor Prof Dr Sugiyo MSi, Ko-Promotor Dr Anwar Sutoyo MPd, dan anggota Promotor Prof Dr Soesanto MPd.

Dalam penelitiannya , Heri Saptadi menerangkan jika individu berperilaku seks berisiko di masyarakat merupakan subjek yang memiliki masalah-masalah psikologis. Masalah psikologis tersebut muncul karena individu berperilaku seks berisiko sedang mengalami masalah psikologis. Salah satu layanan bantuan bagi subjek tersebut dinamakan layanan konseling dengan pendekatan tasawuf.

Baca juga:  Asesmen Akhir Tahun di MTs Negeri 9 Bantul Berjalan Lancar dan Tertib

Di hadapan para penguji serta promotor Heri Saptadi Ismanto menyampaikan tujuan penelitianya mengkaji konseli berperilaku seks berisiko. Kedua mengkaji nilai-nilai tasawuf dalam konseling. Ketiga, mengkaji dampak dan hambatan penerapan konseling metode tasawuf pada konseli berperilaku seks berisiko.

Heri Saptadi Ismanto menyampaikan jika konseling metode tasawuf pada pelaku seks berisiko dilakukan pada tiga responden. “Hasil penelitian yang pertama alasan individu melakukan seks beresiko: terpengaruh pergaulan dengan teman-teman, terpapar pornografi melihat film porno, terpapar paham seks bebas. Kedua nilai-nilai tasawuf dalam konseling merupakan konsep layanan konseling dengan keilmuan yang dituntut untuk lebih humanistik, empirik dan fungsional (penghayatan terhadap ajaran Islam),” tutur Heri.

Baca juga:  MTsN 9 Bantul Borong 4 Penghargaan di Perkasisma DIY 2024

“Ketiga, dampak konseling tasawuf dalam kasus perilaku seks berisiko. Subyek ada keinginan agar jiwanya bisa tumbuh sehat, ingin memiliki sifat-sifat yang baik, dan jiwa sehat dengan memiliki sifat-sifat yang terpuji. Hambatannya, perilaku individu yang lebih sehat tidak bertahan lama, maka konseling harus dilakukan berulang-ulang” imbuhnya.

Konseling dalam penelitian mendiskusikan dan membicarakan bagaimana membina moral umat. Konseling metode tasawuf diawali dari kerangka futuwwah dengan mengaplikasikan sikap zuhud terhadap dunia makrokosmos dan mikrokosmos (manusia).

Tahapannya takhalli (pembersihan hati dari sifat-sifat tercela). Tahall (menghiasi diri dengan sifat-sifat terpuji) tahap tajalli. Setelah kedua tahap ini, dengan dasar pengolahan batin (esoterik) seseorang akan mampu mengatur dirinya berkehidupan sosial dengan baik.

Baca juga:  Lulusan MTsN 9 Bantul Diharap Jadi Generasi Berlian

Rektor UPGRIS Dr Muhdi SH MHum menyampaikan terima kasih dan bangga atas capaian para dosen UPGRIS yang telah menyelesaikan studi doktornya. “Ditahun ini UPGRIS memetik hasil dari para dosen yang selesai menempuh studi doktor di dalam serta luar negeri. Upaya nyata ini jelas bahwa UPGRIS mendukung secara utuh peningkatan budaya akademik khususnya para dosen. Semoga ujian terbukanya Heri Saptadi Ismanto memberi semangat serta kemajuan akademik kampus,” tambah Muhdi.

Heri Saptadi Ismanto merupakan doktor ke-6 lulusan Bimbingan dan Konseling Pascasarjana UNNES dengan hasil sangat memuaskan, sedangkan di UPGRIS Heri lulusan doktor Ke-87.(hms/rds)