Masyarakat Tangguh Bencana Harus Diciptakan

  • Bagikan
Prof. Dr. Erni Suharini, M. Si
TEGAP: Prof. Dr. Erni Suharini, M. Si saat memberikan orasi ilmiah tentang masyarakat tangguh bencana di Unnes, Rabu (24/2). (HUMAS / JOGLO JATENG)

SEMARANG – Indonesia merupakan negara rawan banjir. Baik karena cuaca ekstrem akibat perubahan iklim maupun kerusakan lingkungan. Berdasarkan dokumentasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), kurang-lebih telah terjadi 7.574 kali bencana banjir di Indonesia selama 2011 hingga September 2020. Meskipun fluktuatif, intensitas banjir tergolong tinggi selama 10 tahun terakhir.

Hal tersebut dipaparkan Prof. Dr. Erni Suharini, M. Si pada pengukuhan Guru Besar Bidang Ilmu Pendidikan Geografi Kebencanaan di Universitas Negeri Semarang (Unnes). Menurutnya, masyarakat masih lemah dalam menghadapi bencana banjir. Hal tersebut disebabkan rendahnya pendidikan, belum matangnya emosi dan pola pikir dalam menggunakan informasi ilmiah, mudah terpengaruhi hoaks, serta cenderung mengikuti pergerakan mayoritas tanpa konsensus yang jelas.

Bahkan, urai Erni, beberapa kasus menunjukkan lemahnya masyarakat dalam menghadapi banjir disebabkan rendahnya literasi kendatipun berlatar belakang pendidikan tinggi. Hal itulah yang menjadi dasar tentang pentingnya meningkatkan literasi di kalangan masyarakat.

“Literasi berperan penting dalam membangun sensitivitas guna menilai kompleksitas pengetahuan dan kondisi lingkungan sekitar. Era digital dan industri 4.0 ini menjadi momentum yang tepat dalam mengembangkan literasi kebencanaan,” kata Erni dalam orasinya bertajuk “Membangun Masyarakat Tangguh Bencana Banjir Melalui Literasi dan Partisipasi Aktif Generasi Milenial”, kemarin.

Baca juga:  Edukasi Protokol Kesehatan Pelajar SD di Perbatasan

Ia melanjutkan, ketangguhan menghadapi bencana perlu dibangun dari dalam diri secara individu dan dari masyarakat sebagai kesatuan kelompok. Mengacu pada sudut pandang pendidikan, terang Erni, UNESCO merekomendasikan empat pilar pendidikan sebagai landasan yang membentuk SDM mandiri. Keempat pilar tersebut terdiri dari learning to know, learning to do, learning to be, dan learning to live together.

“Salah satu kelompok berperan strategis dalam membangun masyarakat tangguh bencana adalah milenial. Fakta di lapangan juga menunjukkan milenial di Kota Semarang yang terdampak banjir memiliki kepekaan dalam kegiatan rehabilitasi lingkungan dan perbaikan penanganan bencana yang telah dilakukan,” urai Erni.

Di akhir, ia  merekomendasikan perlunya pengembangan literasi kebencanaan dan partisipasi aktif di kalangan generasi milenial. Hal itu dilakukan untuk membangun masyarakat yang tangguh menghadapi bencana.  (cr2/abu)

  • Bagikan