Akademisi UNNES Lakukan Pengabdian tentang Pengasuhan Balita di Era Milenial

Akademisi Unnes
DAMPINGI: Akademisi Unnes saat melakukan kegiatan pengabdian masyarakat di Kelurahan Plalangan, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, belum lama ini. (DOK. PRIBADI / JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Sejumlah akademisi dari Jurusan Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang (UNNES) melaksanakan pengabdian kepada masyarakat dengan memberikan materi “Pengasuhan Balita di Era Mileneal” di Kelurahan Plalangan, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, belum lama ini (26/8). Tujuan kegiatan ini untuk memberikan pemahaman inspiratif terkait pengasuhan di era milenial kepada orang tua yang memiliki balita.

Kegiatan ini melibatkan empat dosen dan tiga mahasiswa. Sebagai ketua pengabdian, yakni Dr. Reni Pawestuti Ambari S, M.K.M, dan sebagai anggota Dr. Lita Latiana, M.H, Amirul Mukminin, M.Kes, Henny Puji Astuti, S.Psi, M.Si dan Sonny Zulfikasari, M.Pd. Kegiatan ini juga mengundang pemateri dari psikolog RS Hermina Banyumanik Oktariana Indrastuti, S.Psi, M.Psii.

Turut hadir dalam kegiatan ini, Kepala Kelurahan Plalangan M. Arifin, S.E beserta jajarannya, kader pos PAUD dan Posyandu serta sejumlah orang tua yang memiliki balita di sekitar wilayah tersebut.

Psikolog RS Hermina Oktariana Indrastuti menjelaskan, pengasuhan sejak dalam kandungan hingga usia dua tahun dikenal dengan ‘1.000 Hari Pertama Kehidupan’. Karena masa itu merupakan usia emas dalam stimulasi perkembangan otak.

“Pengasuhan meliputi aspek perkembangan kognisi, afeksi, konasi dan bahasa. Setiap rentang usia anak merupakan masa perkembangan yang memiliki keunikan masing-masing,” paparnya.

Menurutnya, menghadapi era milenial, orangtua perlu memahami capaian perkembangan pada masing-masing anak. Kondisi anak berbeda-beda sesuai dengan potensi alamiah dan stimulasi yang didapat.

“Perlu pendampingan orangtua dalam setiap aktivitas anak. Bentuk pendampingan antara lain, memberi kesempatan anak untuk bereksplorasi dengan tetap mematuhi aturan yang disepakati bersama antara orangtua, pengasuh dan anak,” katanya.

Sementara itu, ketua pengabdian Reni Pawestuti Ambari berharap, agar orang tua mampu membersamai perkembangan anak dengan gaya pengasuhan yang relevan, mengingat pesatnya perkembangan teknologi. “Tidak hanya mengandalkan gaya pengasuhan yang turun temurun,” ujarnya.

Selain itu, lanjutnya, harapan tim pengabdi, pengabdian ini dapat menjadi kegiatan yang berkelanjutan melalui program desa binaan. Sehingga, tujuan dari kegiatan ini bisa menjangkau masyarakat luas. (gih/all)