Meski Waktu Mepet, Tim Scene One SMA Negeri 1 Semarang Tetap Raih Juara

Tim Scene One SMA Negeri 1 Semarang
PRODUKSI: Tim Scene One SMA Negeri 1 Semarang ketika proses pembuatan film pendek 'Jangan Bilang Siapa-siapa, untuk mengikuti Festival Film Smanda, beberapa waktu lalu. (DOK. PRIBADI / JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo JatengTim Scene One SMA Negeri 1 Semarang ikut dalam Festival Film Smanda (FFS) di sekolah kawasan Sendangguwo Baru Semarang. Film yang berjudul Jangan Bilang Siapa Siapa ini sukses raih juara favorit.

Semesta Kalbu siswa SMA N 1 Semarang juga selaku sutradara di film ini mengungkapkan, filmnya ini dibuat dengan waktu yang tidak lama. Juga dapat ide yang mendadak dari lingkungan pribadi dan sekolahnya.

“Kita timeline produksi satu minggu, development sebelum produksi yaitu satu hari dapat ide langsung buat sinopsis. Selanjutnya butuh dua hari untuk menulis script, dua hari menyiapkan syuting dan tempatnya. Dan tiga hari syuting di daerah Clapper Cafe Banyumanik,” tuturnya belum lama ini.

Ia menambahkan, timnya beranggotakan 19 orang dari ekstrakurikuler sekolah dan satu pembimbing. “Aktor kita 6-7 orang dari 20 itu. Semua dari ekskul sini. Kenapa pilih di luar sekolah, karena kalo syuting di sekolah itu tempatnya sangat terbuka dan takutnya kalau film yang kita buat tidak maksimal,” urainya.

Dirinya mengakui bahwa hasil film Jangan Bilang Siapa Siapa ini masih kurang maksimal. Ia merasa masih kurang puas. Akan tetapi pengalaman yang didapat sangatlah berharga meski waktu yang mepet.

Sementara itu, Yuwana selaku Kepala Sekolah SMA N 1 Semarang menyampaikan, guru di sekolah tidak mencari siswa berbakat. Siswa sendiri yang mengajukan untuk berprestasi. Dan pastinya guru, siswa dan orangtua siswa semua bersinergi agar siswa berani menunjukkan prestasinya.

“Guru hanya memberi quantum learning. Mereka akan memilih sendiri, apa yang mereka sukai. Selain itu guru hanya mendampingi dan memberi wadah agar apa yang diinginkan bisa tercapai. Anak zaman sekarang potensinya bagus-bagus,” terangnya.

Selain itu, Luluk Amalia selaku pembimbing tim mengatakan, mereka tahu apa yang harus dikerjakan. Menurutnya, siswanya lebih pintar didunia perfilman. Mereka semangat mencari ide, belajar dari karya orang lain lalu mendiskusikan bagaimana project mereka sendiri.

“Saya hanya menengahi saja, anak-anak sudah pintar. Tahu mana dulu yang harus selesai dan langsung dikerjakan. Mereka selalu mencari referensi dari orang lain apa yang perlu dipelajari. Dan anak-anak tahu apa yang diinginkan bukan yang guru inginkan,” jelasnya.(cr9/ziz)