CILACAP, Jolgo Jateng – PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) Refinery Unit (RU) IV Cilacap mendukung penuh hadirnya “Green Earth Team”. Tim ini memiliki sebuah misi mencintai alam untuk mengantisipasi, mitigasi, serta adaptasi terhadap bencana akibat manusia dan faktor alam.
Tim yang dibentuk oleh Kodim 0703/ Cilacap itu dikukuhkan di Markas Komando (Mako) Pusat Pendidikan dan Latihan (Pusdiklat) Pasukan Khusus (Passus) Daun Lumbung, Kelurahan Tambakreja, Cilacap, belum lama ini. Kegiatan dihadiri Dandim 0703/Cilacap Letkol Inf Andi Afandi, Bupati Cilacap Tatto Suwarto Pamuji, dan Pjs General Manager RU IV Cilacap Arief Budiyanto beserta Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan Badan Penaggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cilacap.
Dalam kesempatan tersebut, Pjs GM RU IV Cilacap Arief Budiyanto menyatakan, dukungan Pertamina merupakan kontribusi positif. Selain itu, juga sebagai sinergitas yang dapat mendorong terciptanya peningkatan kapabilitas dan kapasitas hubungan Pertamina dengan pemangku kepentingan.
“Pertamina konsisten dalam menjalankan aspek Environmental, Social, and Governance (ESG) guna mendukung strategi bisnis perusahaan,” katanya.
Sejalan dengan misi Green Earth Team untuk menjaga bumi tetap hijau, kata dia, Pertamina juga memiliki semangat yang sama. Seperti pada program arboretum Konservasi Laguna Segara Anakan Cilacap (Kolak Sekancil).
“Pertamina konsisten menjaga kelestarian lingkungan secara berkelanjutan di Kolak Sekancil. Maka kami berharap, adanya Green Earth Team mari bersama kita jaga sehingga mangrove akan berkembang dan menyumbangkan carbon credit untuk menekan emisi karbondioksida,” ucapnya.
Sementara itu, Dandim 0703/Cilacap Letkol Inf Andi Afandi menyebutkan, fokus saat ini adalah ekosistem mangrove di Cilacap. Ekosistem tersebut memiliki potensi besar hutan mangrove terbesar di Asia.
“Adanya potensi besar ini memungkinkan terjadinya kerentanan. Yang dihadapi saat ini bukan hanya global warming namun degradasi pemikiran, misalnya pembalakan yang pelan-pelan harus kita singkirkan. Maka perlu pendekatan secara humanis agar masyarakat meninggalkan perilaku merusak lingkungan,” paparnya.
Pihaknya bangga kurikulum pengenalan tentang mangrove sudah mulai diaplikasikan, bahkan pada pendidikan usia dini di Cilacap. Dengan demikian, generasi masa depan di Cilacap akan lebih mengenal mangrove, sehingga tercipta agen-agen perubahan di masa datang. “Untuk itu dibutuhkan kolaborasi tim dengan konfigurasi secara sustainable dan dilakukan dengan kerja keras, kerja cerdas, dan kerja sama,” kata Dandim. (ara/gih)










