Kampanyekan Program Adiwiyata, SMA N 8 Siap Naik ke Tingkat Nasional

KEGIATAN POSITIF: Penempelan stiker dalam rangka mengampanyekan Sekolah Adiwiyata, Rabu (25/9/24). (LU'LUIL MAKNUN/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Untuk mengampanyekan beberapa program adiwiyata di sekolah, SMA Negeri 8 melakukan penempelan stiker di sejumlah titik yang ada di lingkungan sekolah. Stiker tersebut berisi ajakan untuk menghemat penggunaan listrik di dalam kelas, menghemat penggunaan air di sekolah, dan membuang sampah pada tempatnya dan lain sebagainya.

Penempelan stiker itu dilakukan langsung oleh duta-duta SMA Negeri 8 Semarang. Antara lain ialah Duta Adiwiyata, Dimas Diajeng, Duta Sosial, Duta Literasi dan Duta Favorit.

Koordinator Kegiatan Adiwiyata Sekolah, Urfan Afiv menyampaikan bahwa kampanye penempelan stiker ini dilakukan untuk memenuhi salah satu komponen menjadi Sekolah Adiwiyata tingkat nasional. Yaitu perihal kampanye kegiatan positif di sekolah.

“Iya, untuk persiapan adiwiyata nasional. Memang salah satu komponennya itu kampanye. Sebenarnya banyak sekali komponennya, tetapi untuk hari ini berupa kampanye penempelan stiker,” katanya pada Joglo Jateng, Rabu (25/9/24).

Urfan menyebut bahwa SMA Negeri 8 sudah menjadi Sekolah Adiwiyata sejak 2022 lalu. Sehingga tahun ini pihaknya berusaha untuk naik menjadi tingkat nasional. Sebab penilaian Sekolah Adiwiyata dilakukan setiap dua tahun.

“Pada 2022-2023 kita sudah menjadi sekolah adiwiyata tingkat provinsi. Saat ini menuju ke Adiwiyata Nasional karena penilaiannya per dua tahun,” ujarnya.

Pada kesempatan itu, turut dilaksanakan Gelar Karya Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dari kelas 10 yang mengusung tema kearifan lokal. Para siswa itu menampilkan drama yang bercerita tentang Sejarah Ramayana.

Menariknya, seluruh properti yang digunakan berasal dari barang-barang bekas. Seperti kardus, botol plastik, dan kertas.

“Ini salah satu komponen yang kita kampanyekan sebagai Sekolah Adiwiyata, yaitu recycle sampah,” imbuhnya.

Sementara itu, Monitoring dan Evaluasi Qomaruddin Rizal mengaku sejak menjadi sekolah adiwiyata masalah sampah dan penggunaan air di sekolah sudah mulai bekurang. Terlebih dalam pengurusan sampah pihaknya telah bekerja sama dengan DLH Kota Semarang.

“Jadi awalnya dari permasalahan umum yang menjadi PR bersama. Seperti banyak sampah plastik di sekolah kini sudah tereduksi hingga 25 persen. Begitu halnya penggunaan listrik dan air yang sebelumnya berkubik-kubik kini penggunaanya juga berkurang. Kita sudah punya program tentu harus dipertahankan,” ungkapnya.

Kepala SMA Negeri 8 Semarang, Suparmi menyampaikan bahwa pihaknya terus berkomitmen menjadi Sekolah Adiwiyata. Segala kegiatan yang dikampanyekan ini merupakan upayan membiasakan para siswa untuk terus melakukan kegiatan positif di sekolah.

“Tentu ini untuk melatih dan membiasakan anak-anak. Seperti menghemat listrik, menghemat air dan membuang sampah pada tempatnya,” jelasnya. (luk/adf)