Uswatun menilai bahwa pembelajaran di rumah maupun di satuan pendidikan selama Ramadhan mampu menambah sisi religius siswa. Baik bagi muslim maupun nonmuslim.
“Jadi pada bulan Ramadan itu berlaku pembelajaran di sekolah maupun di rumah, semuanya me-recharge energi religi, sesuai dengan agamanya masing-masing. Bagi nonmuslim pun semuanya akan terus belajar,” jelas dia.
Selanjutnya, pada tanggal 26 Maret-8 April 2025, siswa SMA/K Negeri akan melaksanakan libur Idulfitri. Meskipun libur, siswa tetap diimbau untuk mengasah kemampuan dalam bermasyarakat, terutama melalui kegiatan silaturahmi.
“Libur bersama Idulfitri itu 26-28 Maret dan 2-8 April 2025. Itu mereka tetap diimbau belajar. Ada 7 kebiasaan Anak Indonesia Hebat, salah satunya bermasyarakat, itu yang harus lebih ditunjukkan lagi. Anak-anak dilatih silaturahmi, ke sana ke sini, kemasyarakatan dilatih di situ,” beber dia.
Uswatun juga menilai bahwa pembelajaran di rumah selama Ramadan memiliki dampak positif. Terutama dalam meningkatkan ikatan antara orang tua dan siswa.
“Selama ini waktu orang tua yang bekerja juga lebih banyak di kantor. Kalau murid sepertiga waktunya di sekolah. Kan kurang waktu juga bersama keluarga. Sehingga mereka bisa sahur, buka bersama, dan siang hari orang tua bisa mengawasi anaknya belajar,” papar dia.
Tak hanya itu, pembelajaran di rumah juga memberikan dampak baik bagi orang tua yang bekerja sebagai guru.
“Orang tuanya yang guru pun juga punya banyak waktu untuk bisa bertemu anaknya. Tetapi kan guru itu ada tuntutan 37,5 jam ya, apakah guru itu nanti masih ada di satuan pendidikan, kita masih menunggu petunjuk lanjutan,” pungkas Uswatun. (luk/adf)










