Menurut Setyo, langkah kecil seperti ini bisa menjadi awal gerakan besar. Dengan menulis tentang lingkungan terdekat, siswa dilatih untuk memahami nilai sejarah lokal, menumbuhkan rasa ingin tahu, serta menyampaikan pesan inspiratif bagi sesama pelajar.
“”Literasi bukan sekadar membaca, tapi bagaimana siswa menghasilkan karya yang memberi makna. Guru harus menjadi contoh nyata, bukan hanya menyampaikan teori,” ujarnya.
Setyo menegaskan, literasi harus menjadi gerakan bersama antara siswa dan guru. Jika dibiarkan stagnan, Indonesia akan terus berada di peringkat bawah dalam survei literasi global seperti PISA. Ia berharap praktik literasi di sekolah bisa menjadi titik tolak revolusi pendidikan yang lebih berkualitas.
”Saya percaya gerakan literasi bisa hidup kembali dan membawa perubahan nyata di dunia pendidikan,” pungkasnya. (adm/fat)










