Pemkab Purbalingga Dorong UMKM Batik Masuk Industri Siap Pakai, Ini Langkah Nyatanya!

FOKUS: Pelatihan dan pendampingan bagi para pengrajin batik dan desainer lokal di SMK Bojongsari, belum lama ini. (DOK. PRIBADI/JOGLO JATENG)

PURBALINGGA, Joglo Jateng – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Purbalingga terus menunjukkan komitmennya dalam mengembangkan potensi industri kreatif lokal, khususnya di sektor batik dan fashion. Melalui Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda), Pemkab Purbalingga menggelar pelatihan dan pendampingan bagi para pengrajin batik dan desainer lokal, guna meningkatkan daya saing Batik Purbalingga, tidak hanya di tingkat nasional, tetapi hingga pasar internasional.

Program ini bekerja sama dengan LF Fashion Consultant dan didukung oleh PT HM Sampoerna Tbk melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) Sampoerna untuk Indonesia. Pelatihan yang berlangsung di SMK Bojongsari ini menghadirkan perancang busana nasional sekaligus Vice Chairman Indonesian Fashion Chamber (IFC), Lisa Fitria, sebagai mentor utama.

Lisa menjelaskan, ini merupakan kelanjutan dari program serupa yang telah dilaksanakan tahun sebelumnya. “Ada dua pelatihan, yaitu pengembangan motif batik Sudirman yang berbasis kontemporer khas Purbalingga dan Fashion Ready to Wear Inkubator. Tahun ini kami lanjutkan dan lebih menekankan pada output berupa busana siap pakai berbasis sustainable fashion,” ujarnya, belum lama ini.

Menurutnya, pendekatan yang digunakan dalam pelatihan kali ini berbeda dari biasanya karena peserta diajarkan metode batik pola. “Metodenya mendesain dulu busananya, kemudian membuat batiknya. Jadi lebih efisien, harganya bisa ditekan dan daya jualnya jadi lebih kompetitif. Harapannya, konsumen bisa mendapatkan batik tulis dengan harga yang lebih terjangkau,” ungkapnya.

Selain menekankan pada konsep keberlanjutan, pelatihan ini juga mengedepankan aspek keterampilan tangan atau craftsmanship. Peserta diajak memanfaatkan limbah kain atau sisa perca sebagai bahan aplikasi seperti smock, bunga, hingga ulir benang pada busana.

“Biasanya busana dijual di harga Rp300 ribuan, tapi dengan sentuhan craftsmanship, nilainya bisa naik dua kali lipat,” katanya.

Pelatihan ini diikuti oleh 20 pembatik dan 22 desainer lokal yang tergabung dalam Asosiasi Fashion Desainer Purbalingga (Afdega), serta siswa SMK jurusan tata busana dan beberapa desainer independen. Lisa menekankan, penting bagi generasi muda memahami proses dari mendesain hingga menjadi produk, termasuk membangun mindset bisnis agar dapat menghasilkan produk berkualitas. (abd/sam)