Berkat Inovasi ‘Kopi Sakral’, Sampah Anorganik di SMP 4 Kudus Berkurang hingga 92 Persen

Acara launching Kopi Sakral pada peringatan HUT ke-40 SMP 4 Kudus, 22 November 2025. (DYAH NURMAYA SARI/JOGLO JATENG)

KUDUS, Joglo Jateng – Sekolah Menengah Pertama (SMP) 4 Kudus menunjukkan komitmen tinggi terhadap isu lingkungan dengan meluncurkan inovasi Kopi Sakral (Koperasi Pengelolaan Sampah Anorganik Ramah Lingkungan). Program ini resmi diluncurkan pada puncak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) SMP 4 Kudus ke-40, pada 22 November 2025, dan segera menjadi sorotan berkat hasil yang mengejutkan.

Kepala SMP 4 Kudus, Dedi Triaprianto, menjelaskan bahwa ide Kopi Sakral berawal dari kondisi darurat sampah yang sempat melanda Kabupaten Kudus pada akhir 2023 hingga 2024. Dari kondisi tersebut, pihak sekolah melakukan analisis lingkungan internal.

“Hasil survei internal menunjukkan bahwa lingkungan SMP 4 Kudus setiap hari menghasilkan sekitar 4,5 kilogram sampah. Angka tersebut, sebagian besar sampah anorganik, dinilai cukup besar untuk ukuran satu sekolah,” jelas Dedi.

Data inilah yang mendorong pihak sekolah untuk mencari solusi sistematis, bukan sekadar penanganan sementara.

“Dari data itu, kami merasa perlu menghadirkan program yang tidak hanya menyelesaikan masalah, tetapi juga memberi edukasi dan kesadaran kepada siswa. Dari sinilah program Kopi Sakral digagas bersama,” tambahnya.

TAMPUNG BOTOL: Para siswa SMP 4 Kudus menampung botol bekas ke dalam ember untuk pengelolaan sampah anorganik di sekolah, belum lama ini. (DYAH NURMAYA SARI/JOGLO JATENG)

Sampah Anorganik Berkurang 92 Persen

Sejak diujicobakan dan diluncurkan, Kopi Sakral menunjukkan hasil yang sangat signifikan. Melalui mekanisme pengumpulan, pemilahan, hingga pemanfaatan sampah anorganik secara terstruktur, jumlah sampah yang tersisa di lingkungan sekolah menurun drastis.

“Alhamdulillah, setelah kami mengadakan post-test atas pelaksanaan program Kopi Sakral ini, hasilnya luar biasa. Sampah anorganik di lingkungan sekolah berkurang hingga 92 persen,” kata Dedi. Ia menegaskan, angka tersebut bukan estimasi, melainkan data yang diolah sendiri dari survei lingkungan sekolah.

Keberhasilan ini tidak hanya berdampak pada kebersihan, tetapi juga pada proses pembelajaran siswa. Program Kopi Sakral didesain agar peserta didik belajar secara kontekstual, mengaitkan teori yang mereka pelajari dengan masalah nyata di sekitar mereka.

“Kebermanfaatannya sangat terasa. Peserta didik belajar bukan hanya dari materi, tetapi dari praktik langsung. Ini membuat proses belajar lebih bermakna,” imbuhnya.

Kopi Sakral kini berfungsi ganda sebagai program pengelolaan sampah sekaligus menjadi model pembelajaran lingkungan yang sejalan dengan visi Kudus Sehat Pemerintah Kabupaten Kudus. Inovasi ini diharapkan mampu direplikasi oleh sekolah lain di Kudus maupun daerah lain. (uma/fat)