SMAN 1 Kayen Genjot Adiwiyata Mandiri Lewat Penghijauan di Kawasan Kendeng

BERAKSI: SMAN 1 Kayen terus menggenjot program pelestarian alam dan pengelolaan sampah berkelanjutan sebagai langkah strategis menuju predikat Adiwiyata Mandiri, belum lama ini. (DYAH NURMAYA SARI/JOGLO JATENG)

PATI, Joglo Jateng – Semangat pelestarian alam dan transisi ekologi terus digelorakan oleh SMAN 1 Kayen melalui rentetan program nyata. Sekolah ini tidak hanya berteori di dalam kelas, melainkan terjun langsung melakukan aksi tanam bibit pohon di kawasan Pegunungan Kendeng.

Langkah masif nan progresif tersebut menjadi bagian dari perjalanan strategis sekolah menuju pencapaian predikat Adiwiyata Mandiri tingkat nasional.

Kepala SMAN 1 Kayen, Sukarno melalui Hubungan Masyarakat (Humas), Triyono Budi Harso menjelaskan, sekolahnya tidak hanya berfokus pada pembenahan lingkungan internal. Mereka juga aktif melakukan pembinaan ke sejumlah sekolah di wilayah Kecamatan Kayen.

Menurut Triyono, pendampingan tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab moral sekolah setelah sebelumnya sukses merengkuh predikat Adiwiyata Nasional.

“Kegiatan Adiwiyata ini fokus pada tujuan mencintai bumi dan melestarikan lingkungan agar tetap hijau. Itu menjadi visi utama kami,” ungkap Triyono, belum lama ini.

Hijaukan Pegunungan Kendeng

Untuk mengeksekusi visi tersebut, pihak sekolah rutin menggelar ekspedisi lingkungan bersama para siswa, khususnya yang tergabung dalam ekstrakurikuler pecinta alam. Salah satu program flagship mereka adalah penanaman pohon di kawasan Kendeng yang esensial bagi ekosistem Pati.

Selain menghijaukan lahan kritis, aksi pembersihan aliran sungai juga menjadi titik berat pergerakan para siswa.

Manuver kebersihan ini dipusatkan di kawasan sumber air, yang dinilai sangat vital untuk menjaga keberlangsungan pasokan air bersih bagi kelangsungan hajat hidup masyarakat sekitar.

Sulap Sampah Plastik Jadi Uang Kas

Bergeser ke ranah internal sekolah, upaya keberlanjutan lingkungan diterapkan melalui manajemen pemilahan sampah organik dan anorganik yang ketat.

“Sampah organik biasanya kami olah menjadi pupuk. Sedangkan yang anorganik dimanfaatkan untuk kerajinan seperti pot tanaman,” terangnya.

Pihak sekolah juga berinovasi dengan mendirikan sistem bank sampah sekolah yang melibatkan seluruh kelas secara kompetitif. Setiap kelas diwajibkan menyetorkan sampah yang dapat didaur ulang (recycle), terutama botol plastik bekas minuman.

“Anak-anak menabung sampah. Botol plastik yang terkumpul dijual, dan hasilnya dikembalikan ke kas kelas untuk kegiatan mereka,” beber Triyono.

Selain itu, sekolah tak lelah mengimbau siswa untuk meminimalisasi plastik sekali pakai dengan membawa kotak makan dan tumbler minum sendiri dari rumah.

Berbekal serangkaian inovasi tersebut, SMAN 1 Kayen memupuk optimisme tinggi untuk bisa meraih penghargaan Adiwiyata Mandiri.

“Ini semua bagian dari proses panjang. Kami terus berusaha agar lingkungan sekolah dan sekitar semakin hijau dan lestari,” pungkasnya. (uma/fat/rds)