Permasalahan Sampah di Sleman Baru Tertangani Sebagian

OPERASIKAN: Petugas menjajal mesin pengolahan sampah di TPST Tamanmartani, Sleman, beberapa waktu lalu. (ADIT BAMBANG SETYAWAN/JOGLO JOGJA)

SLEMAN, Joglo Jogja – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sleman mengandalkan sejumlah fasilitas pengolahan yang ada untuk mengelola sampah mandiri pasca Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan ditutup. Dengan tempat pengolahan sampah yang ada, baru separuh volume sampah di Bumi Sembada yang dapat ditangani.

Kepala DLH Sleman Epiphana Kristiyani mengatakan, ada tiga jenis fasilitas pengolahan sampah yang dimiliki Sleman untuk mengolah sampah secara mandiri. Pertama ialah Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST), kedua Tempat Pengolahan Sampah ReduceReuseRecycle (TPS3R), dan yang ketiga yakni transfer depo sampah yang dioptimalisasi.

“Saat ini, TPST Tamanmartani telah beroperasi dan mampu mengelola sampah dari 9-10 truk sampah setiap harinya. Dengan estimasi satu truknya kurang lebih mencapai lima ton sampah. Namun, TPST Tamanmartani pernah mengelola sampah 50 ton per hari,” katanya, Kamis (7/3/24).

Tak hanya di Tamanmartani, DLH Sleman terus berproses menyiapkan operasional TPST di Minggir. Secara konstruksi, bangunan pengolahan sampah di TPST Minggir telah rampung. Hanya saja, DLH masih menunggu lelang jalan sebagai akses dari dan menuju ke TPST Minggir.

“TPST Minggir sudah selesai. Kami sudah install listrik, install peralatan, cuma tinggal akses jalannya masuk ke sana yang kita belum punya. Rencananya, TPST Minggir sendiri akan beroperasi pada April mendatang,” ungkapnya.

Berbeda dengan TPST Tamanmartani yang dibekali tiga modul mesin pengolahan sampah, di Minggir hanya dua modul yang akan dipasang. Dengan dua mesin tersebut, TPST Minggir diproyeksikan mampu mengolah sekitar 40 ton sampah. Luarannya sama, mengolah sampah menjadi RDF.

Bergeser ke TPS3R, pada November 2023, Epi mencatat ada 22 TPS3R yang aktif beroperasi mengelola sampah di Sleman. Seperti namanya, TPS3R harus menerapkan konsep ReduceReuseRecycle. Beberapa TPS3R di Sleman juga menghasilkan produk seperti kompos hingga pakan maggot.

Baru-baru ini, Epi berencana membekali dua TPS3R dengan mesin khusus untuk mengelola sampah menjadi RDF, layaknya teknologi yang diterapkan di TPST. Dua TPS3R yang dibekali teknologi pengolahan sampah tersebut ditargetkan mampu mengolah tujuh ton sampah per hari.

Tak hanya TPS3R yang bakal dibekali mesin pengolahan sampah menjadi RDF, transfer depo sampah milik DLH justru lebih dulu telah mengoperasikan mesin tersebut. Sebanyak tiga transfer depo dioptimalkan dengan perangkat mesin yang mampu mengolah sampah menjadi RDF.

“Tiga transfer depo yang kita optimalisasi kira-kira bisa mengolah 15 ton sampah per hari. Namun, jumlah produksi harian sampah di Sleman saat ini, berkisar di angka 240 ton. Sementara bila dua TPST, dua TPS3R, dan tiga transfer depo semua beroperasi setidaknya separuh produksi sampah di Sleman mampu tertangani. Sekitar 112 ton itu yang bisa kita kelola nanti pada bulan April,” tandasnya. (bam/abd)