SEMARANG, Joglo Jateng – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) menggelar Government Auto Show Commercial Vehicle Expo (GAS VCE) 2025 di Lanumad Ahmad Yani Semarang, Jumat-Sabtu (12-13/9/2025). Pameran ini difokuskan pada kendaraan niaga, mulai dari bus hingga truk, sekaligus menjadi ajang temu bisnis antara dealer, karoseri, dan dunia usaha.
Kepala Bapenda Jateng Nadi Santoso mengatakan, pameran ini bukan hanya sebatas ajang unjuk produk, tetapi juga wadah mempertemukan kebutuhan perusahaan dengan produsen kendaraan niaga.
“Jadi, bukan hanya show pameran, tapi juga ada temu bisnis antara dealer, karoseri, dengan dunia usaha yang membutuhkan kendaraan niaga,” ujarnya.
Lebih jauh, Nadi menekankan pentingnya sosialisasi kebijakan Pemprov Jateng terkait insentif investasi bagi perusahaan. Salah satunya berupa pengurangan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) untuk pembelian kendaraan baru.
“Ini yang selama ini belum banyak diketahui dunia usaha. Beberapa perusahaan sudah memanfaatkan, contohnya Rosalia dan Siba Suryani,” terangnya.

Menurutnya, sebanyak 16 merek kendaraan dipastikan mengikuti GAS VCE 2025. Panitia juga mengundang sekitar 140-150 perusahaan besar untuk hadir, dengan harapan bisa membuka peluang kerja sama bisnis.
“Pesertanya memang kita undang. Perusahaan-perusahaan besar yang berpotensi membutuhkan kendaraan niaga kita hadirkan untuk bertemu langsung dengan dealer dan karoseri,” jelasnya.
Meski tidak menargetkan secara khusus penjualan kendaraan, Nadi berharap ekspo ini bisa mendorong investasi baru di sektor kendaraan niaga.
“Yang jelas poin penting adalah memberikan sosialisasi bahwa Jawa Tengah memberikan dorongan berinvestasi melalui pengurangan BBNKB,” katanya.
Selain ditujukan bagi kalangan bisnis, masyarakat umum juga diperbolehkan menghadiri GAS VCE 2025.
“Boleh, karena yang dipamerkan ini kan kendaraan niaga, bus, truk, dan sebagainya,” imbuhnya.
Pameran GAS VCE 2025 ini menjadi salah satu strategi Pemprov Jateng untuk meningkatkan pendapatan daerah. Khususnya, dari sektor pajak kendaraan.
“Kalau pembelian kendaraan tentu saja akan mendorong BBNKB. Itu otomatis berkontribusi pada pendapatan asli daerah,” papar Nadi. (luk/amd)










