SEMARANG, Joglo Jateng – Tiga dosen Universitas Ivet (Unisvet) kembali menorehkan prestasi melalui inovasi digital bernama ICE (Interactive, Creative, and Enjoyable Learning). Program ini ditujukan untuk mendukung pendidikan anak-anak berkebutuhan khusus di sekolah inklusi, salah satunya di KB–TK Talenta, Jalan Puspowarno Tengah IX, Salaman Mloyo, Semarang Barat, belum lama ini.
ICE dirancang sebagai media pembelajaran yang interaktif, kreatif, dan menyenangkan. Tidak hanya mengenalkan literasi digital sejak dini, inovasi ini juga menawarkan strategi pembelajaran adaptif dan ramah anak.
Dengan begitu, perbedaan kemampuan belajar siswa dapat terakomodasi sehingga proses pendidikan terasa lebih bermakna, baik bagi anak berkebutuhan khusus maupun seluruh siswa.
Program ini digagas oleh Budi Dyah Lestari, Dewi Nugrahastuti Wirahno, serta Andri Irdyansyah, melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM). Karya mereka mendapat dukungan Hibah Bima Kemdiktisaintek dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
Hibah kompetitif tersebut mendorong dosen-dosen perguruan tinggi menghasilkan karya inovatif dan aplikatif yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. “Inovasi ini membuat proses pendidikan menjadi lebih bermakna, tidak hanya bagi anak berkebutuhan khusus, tetapi juga seluruh siswa,” ujar Budi Dyah Lestari, dosen Unisvet sekaligus tim penggagas ICE.
Dyah menambahkan, ICE menjadi sarana kolaborasi antara guru, orang tua, dan masyarakat. “Dengan ICE, keterlibatan semua pihak dalam pendidikan inklusif semakin terbuka. Harapan kami, anak-anak bisa tumbuh percaya diri, kreatif, dan tetap gembira dalam belajar,” ungkapnya.
Sementara itu, Wakil Rektor III Unisvet, Raditya Ahmad Rifandi, menegaskan bahwa pencapaian ini menjadi bukti nyata kontribusi perguruan tinggi dalam menjawab tantangan pendidikan.
“Unisvet berkomitmen untuk selalu menghadirkan inovasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Melalui karya dosen-dosen kami, pendidikan inklusif semakin mendapat perhatian, dan anak-anak berkebutuhan khusus bisa memperoleh hak belajar yang setara dengan cara yang lebih kreatif,” ujarnya. (hms/gih)










