SELAIN mengoptimalkan pompa, BNPB juga menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk menahan curah hujan di wilayah hulu. Langkah ini dilakukan agar proses penyedotan air tidak terganggu dan genangan bisa surut lebih cepat.
“Airnya akan surut (banjir di permukiman) dua sampai tiga hari lagi. Setelah itu, kita akan coba lepas OMC-nya untuk melihat kemampuan pompa menghadapi hujan berikutnya,” kata Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto.
Akan tetapi, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dinilai tak efisien, karena menghabiskan banyak biaya. Sekali jalan, OMC bisa menelan biaya sekitar Rp 200 juta. Ia menyebut, biaya OMC tergantung jam terbang pesawat dan jumlah garam.
“Buktinya ini nggak hujan. Berapa hari kan nggak hujan Semarang, mendung tebal kemarin, nggak hujan. Itu sangat efektif tapi juga tidak murah, tidak efisien dan kita juga tidak boleh bergantung hanya OMC saja,” jelasnya.
Oleh karena itu, kata dia, pompa harus dioptimalkan agar banjir di Semarang tak bergantung pada OMC. Maka kini ada satgas pompa yang dipimpin TNI-Polri.
“Nah, pompa ini 24 jam, dilihat debit airnya untuk pompa air. Kalau ada yang rusak diperbaiki, yang kurang ditambah. Per hari ini jumlah pompanya hampir 128 pompa di seluruh wilayah Kota Semarang,” lanjutnya.
Ia mengatakan, Kementerian PU juga tengah membangun kolam retensi yang ujungnya nanti merupakan tanggul laut yang pembangunannya masih 40 persen. Pompa juga ditambahkan untuk menguras air lebih cepat.
“Kami sepakat OMC tetap dilaksanakan sementara, pompanisasi dimaksimalkan, tetapi tidak akan selamanya. Setelah pompanisasinya bagus, OMC-nya kita kurangi. Kita coba didatangkan hujan, kalau tidak banjir, berarti pompanisasinya bagus,” lanjutnya. (luk/iza)










