SEMARANG, Joglo Jateng – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD Jawa Tengah) memperketat strategi penanganan bencana hidrometeorologi melalui operasi penyelamatan darurat dan rekayasa cuaca. Langkah taktis ini diambil menyusul tingginya intensitas banjir dan tanah longsor yang mengepung sejumlah wilayah, khususnya di jalur Pantura.
Saat ditemui di Kantor Gubernur Jawa Tengah, Kota Semarang, Kamis (22/1/2026) sore, Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) BPBD Jateng, Bergas Catursasi tampak serius memaparkan peta sebaran bencana. Ia menegaskan, dalam situasi genting seperti ini, keselamatan nyawa warga adalah prioritas mutlak yang tidak bisa ditawar.
Prioritas Evakuasi Kelompok Rentan
Bergas menjelaskan, tim gabungan yang terdiri dari BPBD, TNI, Polri, dan relawan terus bergerak menyisir lokasi terdampak. Fokus utama evakuasi ditujukan kepada kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, dan orang sakit.
“Yang pertama tentu keselamatan warga masyarakat nomor satu. Teman-teman di lapangan melakukan evakuasi, terutama untuk kelompok rentan, agar tidak ada korban jiwa,” ujar Bergas.
Tak hanya soal penyelamatan, BPBD juga menjamin kenyamanan para pengungsi. Bergas memastikan tidak ada warga yang ditempatkan di tenda darurat. Seluruh pengungsi dialokasikan ke bangunan permanen yang layak huni, seperti gedung sekolah, masjid, dan aula fasilitas umum.
“Pemenuhan kebutuhan dasar sudah berjalan, mulai dari makan, minum, hingga tempat pengungsian yang layak. Ini di-support oleh banyak pihak, mulai dari Kemensos, Dinsos, PMI, Baznas, hingga masyarakat,” ungkapnya.
Modifikasi Cuaca Diperpanjang
Sebagai upaya mitigasi pengurangan debit air hujan, BPBD Jawa Tengah bersama BNPB memperpanjang Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Teknologi ini diharapkan mampu memecah konsentrasi awan hujan di wilayah rawan.
“Operasi modifikasi cuaca sudah dilakukan sejak 15 Januari dan diperpanjang sampai tanggal 24 (Januari). Kalau kondisi cuaca masih tidak mendukung, maka OMC bisa dilakukan kembali,” tegasnya.
Fokus OMC saat ini diarahkan ke wilayah Pantura yang terdampak banjir parah, seperti Pekalongan dan Pati, sembari memantau perkembangan data dari BMKG.
Waspada 30 Titik Longsor
Berdasarkan pemetaan BPBD, potensi bencana terbagi menjadi dua karakteristik wilayah:
- Daerah Aliran Sungai (DAS) & Hilir (Pantura/Pansela): Berisiko tinggi banjir.
- Wilayah Pegunungan: Berpotensi tinggi tanah longsor.
“Tercatat sekitar 30 titik longsor dengan tingkat dampak yang bervariasi, mulai dari menutup akses jalan hingga merusak rumah warga,” jelas Bergas.
Penanganan longsor skala besar saat ini dilakukan dengan mengerahkan alat berat. Sementara untuk skala ringan, pembersihan material longsor dilakukan secara gotong royong oleh masyarakat dan petugas setempat.
Menutup keterangannya, BPBD mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan mengingat puncak musim hujan diprediksi masih akan berlangsung hingga Februari. Warga diminta menyiapkan jalur evakuasi mandiri sejak dini untuk menghindari kepanikan. (hfh/gih)










