SEMARANG, Joglo Jateng – Suasana khusyuk layaknya di Tanah Suci terasa kental di Wisata Religi Fatimah Zahra, Gunungpati, Semarang, Rabu (11/2). Puluhan siswa kelas 5 MI NU Pendidikan Islam tampak antusias mengelilingi replika Ka’bah sambil melafalkan kalimat talbiyah dalam kegiatan simulasi manasik haji.
Kegiatan ini bukan sekadar wisata, melainkan bagian dari metode pembelajaran kontekstual mata pelajaran Fikih, khususnya materi ibadah haji. Para siswa diajak keluar dari ruang kelas untuk mempraktikkan teori yang selama ini hanya mereka baca di buku pelajaran.
Metode Belajar Fikih Kontekstual
Kepala MI NU Pendidikan Islam, Naila Failasufa, S.Pd.I menjelaskan, manasik haji dipilih sebagai metode pembelajaran efektif untuk memperdalam pemahaman siswa. Dengan melihat dan melakukan langsung, materi rukun Islam kelima ini diharapkan lebih melekat di ingatan anak didik.
“Melalui praktik langsung seperti ini, siswa dapat memahami tata cara pelaksanaannya dengan lebih baik. Ini adalah upaya kami meningkatkan kualitas pembelajaran Fikih yang tidak hanya menekankan teori, tetapi juga praktik nyata,” ujarnya di sela-sela kegiatan.
Dalam simulasi tersebut, para siswa dibimbing untuk melakukan rangkaian rukun dan wajib haji secara urut, meliputi:
- Thawaf: Mengelilingi miniatur Ka’bah sebanyak tujuh kali.
- Sa’i: Berlari-lari kecil antara bukit Shafa dan Marwah.
- Wukuf: Berdiam diri sejenak sebagai simulasi puncak haji di Arafah.
- Lontar Jumrah: Melempar batu kerikil ke tiang jumrah sebagai simbol melawan godaan syetan.
Tanamkan Karakter Religius Sejak Dini
Naila menambahkan, selain aspek akademis, kegiatan ini memiliki target pembentukan karakter (character building). Prosesi haji yang panjang mengajarkan nilai-nilai luhur yang penting bagi tumbuh kembang anak.
“Selain tata cara ibadah, kami ingin menanamkan nilai kesabaran, kedisiplinan, dan kebersamaan kepada siswa sejak dini,” imbuhnya.
Selama kegiatan berlangsung, para siswa terlihat tertib mengikuti arahan pembimbing. Kekompakan dalam kelompok atau regu terbang (kloter) buatan juga terlihat jelas, mencerminkan nilai gotong royong yang menjadi esensi dari ibadah haji sesungguhnya. (iza/fat/rds)










