PATI, Joglo Jateng – Prediksi kemarau panjang pada 2026 membuat para petani di Kabupaten Pati dilanda rasa waswas. Potensi kekeringan ini mengancam keberlangsungan masa tanam yang saat ini tengah berlangsung di sejumlah wilayah agraris setempat.
Kekhawatiran terbesar para pahlawan pangan ini adalah menyusutnya pasokan air irigasi secara tiba-tiba. Kondisi tersebut bisa memicu kerugian material yang tak sedikit akibat ancaman gagal panen.
Salah satu petani asal Desa Jambean Kidul, Kecamatan Margorejo, Kamelan mengaku sangat berhati-hati dalam menentukan strategi pada musim tanam kali ini.
“Takutnya nanti sudah ditanam tiba-tiba benar terjadi kemarau panjang. Itu bisa mengakibatkan gagal panen,” ucapnya, belum lama ini.
Siasat Tanam Varietas Genjah (Umur Pendek)
Melihat kondisi cuaca yang membayangi, Kamelan bersama petani lainnya merespons dengan langkah antisipatif. Mereka beramai-ramai beralih menanam padi dengan varietas berumur pendek.
Benih jenis ini diklaim mampu mempercepat masa panen hingga 25 hari lebih awal dibandingkan varietas padi reguler.
“Varietas biasanya baru dapat dipanen sekitar 90 hingga 100 hari setelah tanam. Sementara varietas umur pendek dapat dipanen antara 70 hingga 75 hari setelah tanam,” terangnya.
Pemilihan varietas padi cepat panen ini diyakini membuat petani bernapas lebih lega. Mereka tak lagi terlalu terbebani oleh risiko krisis air saat puncak kemarau melanda kawasan Pati nantinya.
Meski demikian, penggunaan benih umur pendek ini bukannya tanpa kelemahan. Ada konsekuensi dari sisi bobot hasil panen.
“Meski varietas umur pendek secara kuantitas hasil tetap memiliki perbedaan dengan yang biasa ditanam, tapi tidak terlalu signifikan. Petani lebih mengejar supaya bisa panen daripada risiko gagal panen,” pungkasnya. (lut/fat/rds)










