Disdikbud Jateng Jamin tak Ada Perploncoan Siswa Baru

Kepala Disdikbud Jateng, Uswatun Hasanah
Kepala Disdikbud Jateng, Uswatun Hasanah. (LU'LUIL MAKNUN/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Menjelang tahun ajaran baru yang akan berlangsung pada 17 Juli 2023 mendatang, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Jawa Tengah (Jateng) tegaskan tidak akan ada perploncoan bagi peserta didik baru. Khususnya pada saat masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS).

Kepala Disdikbud Provinsi Jateng, Uswatun Hasanah mengatakan, pada MPLS kali ini akan langsung diawasi oleh pihaknya dan satuan pendidikan secara langsung. Sehingga minim kemungkinan adanya perploncoan dari senior kepada anak baru.

“Kita hindari yang namanya bullying, kegiatan yang jatuhnya pada hukuman fisik. Kita lebih banyak berbahagia, bersenang-senang menyambut tahun ajaran baru, utamanya untuk calon peserta didik (CPD) baru,” tutur Uswatun saat dihubungi, Selasa (11/7/23).

Uswatun menyebut bahwa MPLS akan berlangsung selama empat hari. Yakni dengan rincian pada hari pertama diawali dengan pengenalan guru, ruang kelas, dan lingkungan sekolah kepada peserta didik baru. Kemudian, tiga hari selanjutnya akan diisi dengan materi yang berhubungan dengan pengembangan diri maupun nilai-nilai kebangsaan.

“Sesuai dengan arahan Pak Gubernur, MPLS ada materi bela negara, pengenalan lingkungan sekolah, muatan-muatan Pancasila. Kita nanti juga insert (masukan) di dalamnya kegiatan menghargai dan mengenang jasa pahlawan pendidikan, kemerdekaan. Kemudian juga mulai menggiatkan kembali kesadaran berolahraga atau menjaga kesehatan sekaligus juga menjaga kesehatan pasca Covid-19,” paparnya.

Ia memastikan kegiatan MPLS diawasi sekaligus dikendalikan langsung oleh Dinas Pendidikan dan satuan pendidikan terkait. Uswatun menyebut, seluruh pihak yang akan terlibat selama MPLS berlangsung adalah tim teknis dari sekolah.

“Jadi pengawalannya juga ketat. Tidak ada agenda yang mengarah ke sana (perploncoan). Semua jadwal akan kita tata, namun belum bisa kami sampaikan karena masih dalam proses penggodokan ya. Tidak ada kegiatan yang mengarah ke sana seperti zaman dulu. Antisipasinya apa? Ya seperti tadi. Langsung ditangani sekolah. Perploncoan sudah tidak ada. Siswa senior itu sifatnya membantu,” pungkasnya. (luk/gih)