Awal Tahun, Harga Bahan Pokok Belum Stabil

TIMBANG: Ghofur pedagang telur saat melayani pembeli di kios Pasar Pagi Pemalang, Senin (3/1). (UFAN FAUDHIL/JOGLO JATENG)

PEMALANG, Joglo Jateng – Kenaikan harga komoditi bahan pokok dampak dari perayaan Natal dan tahun baru (Nataru) Senin (3/1) masih belum berhenti hingga awal 2022. Seperti pada komoditi telur dan daging ayam negeri di Pasar Pagi Pemalang, harganya masih melambung.

Pedagang telur ayam di Pasar Pagi, Ghofur (37) menyampaikan, meski harga sudah turun dibandingkan akhir Desember lalu. Harga telur masih belum di level normal. Walau begitu minat pembeli di akhir tahun hingga sekarang tidak ada kenaikan, dan cenderung stabil.

“Paling mahal waktu akhir tahun 2021, sampai harga Rp 31.500/kg. Sekarang turun menjadi Rp 26.500/kg. Tiga hari ini harga semakin turun. Tapi masih saja banyak pelanggan yang mengeluh,” ungkapnya saat diwawancarai di pasar, Senin (3/1).

Ia menjelaskan, untuk faktor kenaikan harga ini disebabkan adanya moment Nataru Senin (3/1). Padahal dilihat dari minat beli masyarakat, tidak ada kenaikan. Selain itu dari peternak beralasan, akibat harga pakan dan perawatan ayam yang semakin tinggi.

Hal tersebut juga di ungkapkan oleh Aris (48), di mana untuk tahun baru 2022 ini minat pembeli tidak sebanyak saat sebelum pandemi. Walaupun saat ini sudah melandai, namun minat beli masih rendah. Ia berharap, agar harga telur segera stabil, dan diikuti daya beli masyarakat yang meningkat.

“Ya bukan sayaa saja. Tapi harapan semuanya, agar harga telur bisa stabil. Jadi pelanggan meningkat, saya penjual juga ikut bahagia,” terangnya.

Sementara itu, harga daging ayam negeri pun masih cenderung tinggi. Widodo (45) penjual daging ayam di Pasar Pagi Pemalang menuturkan, harga ayam mencapai Rp 40.000/kg. Jika dibandingkan akhir tahun Senin (3/1), harga itu naik sebesar 4-5 ribu rupiah per kilonya.

“Ya saya jual sesuai harga pasaran, tidak dinaikan juga. Padahal sampai sekarang masih tetap sepi tidak terlalu ramai. Tapi saya lihat kasus pandemi sudah tidak ada, jadi mudah-mudahan minat beli masyarakat juga ikut naik,” terangnya.

Kenaikan harga ini juga dirasakan Ayu (36) pemilik usaha warung makan. Yang terpaksa harus manaikan harga dagangannya atau mengurangi porsinya. Meski pembeli sudah paham, namun karena hal itu minat beli konsumen menjadi kurang. Khusus untuk masakan berbahan dasar ayam dan telur.

“Dari telur, daging ayam sampai minyak goreng semuanya naik. Jadi pedagang masakan seperti saya sangat terdampak. Banyak pelanggan mengeluhkan ukuran masakan dan harga yang mahal. Tapi mau bagaimana lagi. Jika tidak dilakukan, saya rugi,” paparnya. (fan/all)