SEMARANG, Joglo Jateng – Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Provinsi Jawa Tengah (Jateng) menyebut bahwa varian baru Omicron bisa menular semua usia, meski tingkat keparahannya lebih rendah. Itu terbukti setelah adanya kasus anak berusia 7 tahun tertular kasus tersebut.
Sebelumnya, Dinas Kesehatan Kota (DKK) Semarang, mengabarkan terdapat empat orang yang terjangkit Covid-19 varian Omicron. Keempat orang itu merupakan satu keluarga yang diketahui salah satunya masih anak-anak usia 7 tahun.
“Benar saya mendapatkan info dari media, ada Omicron. Salah satunya anak usia 7 tahun. Informasi cuma satu orang. Omicron juga bisa ke semua usia (menular), sampai anak-anak,” kata Sekretaris IDAI Jawa Tengah, Moh Syarofil Anam saat dihubungi, akhir pekan lalu.
Sejauh ini, kata dia, varian lainnya pun terbukti bisa menular kepada usia balita. Namun, gejala yang ditimbulkan tidak ada perbedaan dengan orang dewasa. “Gejalanya enggak ada perbedaan dengan dewasa.Tampaknya varian Omicron dilaporkan luar negeri tidak lebih berat daripada Delta, lebih ringan manfestasinya,” ucapnya.
Kendati demikian, bagi Anam masyarakat tidak boleh menganggap remeh. Artinya, tingkat kewaspadaan harus diperketat menghadapi varian Omicron. “Orang tua harus lebih waspada, karena Omicron mulai terdeteksi di Jateng. Jangan sampai mengurangi kewaspadaan kepada Covid harus kenceng lagi. Artinya, jangan meremehkan varian baru ini,” ujarnya.
Anam berharap, pagebluk Covid -19 segera berakhir agar anak -anak dalam proses pembelajaran tatap muka (PTM) lebih tenang.
Sementara itu, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jawa Tengah menyebutkan, tingkat keparahan varian Omicron lebih rendah dibandingkan varian Delta, kendati penyebarannya lebih cepat. Sebab, kasus kematian akibat virus tersebut lebih rendah dibanding varian lainnya.
“Penyebarannya lebih cepat daripada yang lainnya, di Jakarta misalnya angka pertambahahnya cukup banyak dengan waktu yang tidak terlalu lama,” kata Ketua IDI Jawa Tengah Djoko Handoyo.
Meski penularan Omicron sangat cepat, gejala utama varian ini justru lebih ringan. Seperti halnya mirip dengan orang yang terserang virus flu seperti biasanya. “Ini karakteristiknya mirip-mirip dengan orang sakit flu, bahkan ada yang seperti orang tanpa gejala,” terangnya.
Akan tetapi, IDI mengingatkan kepada masyarakat agar tidak meremehkan walaupun awalnya gejalannya ringan. Antisipasi penularan dari varian baru itu perlu disiapkan.
“Kami sudah mempelajari ternyata penanganan, diagnosanya, pengobatan juga termasuk preventif masih sama dengan varian lainnya,” ujarnya.
Ia menyatakan, pihaknya telah menyiapkan sejumlah skema untuk mengatasi penyebaran varian Omicron di Jateng. “Kami sudah mempersiapkan diri, teman-teman dari Puskesmas, rumah sakit untuk dapat memberikan pelayanan yang terbaik,” akunya.
Selain memberikan edukasi kepada masyarakat terkait protokol kesehatan (prokes), Djoko menekankan pentingnya layanan kesehatan untuk menyiapkan sarana ruang isolasi mandiri, termasuk perawatan di puskesmas dan rumah sakit. Untuk itu, IDI Jateng sedang berkoordinasi dengan pihak-pihak berwenang.
“Yang dilakukan isolasi mandiri, baru kemudian bila tidak sanggup ada perawatan di rumah sakit, semoga tidak terjadi,” ungkapnya. (dik/gih)










