JEPARA, Joglo Jateng – Pada pementasan ketoprak di Gedung MWC NU Jepara mengangkat lakon Ki Ageng Bangsri. Pemilihan lakon tersebut sebagai bentuk meneladani tokoh penyebar agama Islam di daerah setempat. Pasalnya, tokoh tersebut sudah dikenal baik oleh warga Bangsri maupun Mlonggo.
Andang Wahyu Trianto selaku anggota DPRD Jawa Tengah mengatakan, Ki Ageng Bangsri atau Ki Ageng Gedhe Bangsri merupakan tokoh penyebar agama Islam. Tokoh tersebut sekaligus dianggap selayaknya seorang wali.
“Satu hal yang menarik bagi kami, seperti anggota legislatif (wakil bagi masyarakat) bagaimana kita bisa mewarisi jiwa semangat pendahulu kita. Ki Ageng Bangsri sangat dihormati sampai sekarang makamnya banyak didatangi para peziarah,” ungkapnya dalam acara Media Tradisional dengan mengambil pementasan seni ketoprak dengan lakon ‘Ki Ageng Bangsri Laskar Tanggul Wali,’ belum lama ini.
Sementara bagi Muhammad Burhan selaku Ketua Riset dan Kajian Kebudayaan Lesbumi PCNU Jepara, keberadaan Ki Ageng Bangsri di Jepara benar adanya. Namanya ada pada Babad Tanah Jawa. Tokoh ini merupakan menantu dari Ki Ageng Selo dan hidup semasa zaman Sultan Trenggono, Raja Demak Bintoro. “Jejak Beliau masih ada sampai sekarang,” katanya.
Selain itu, dirinya menuturkan, nguri–uri budaya salah satunya bisa dengan pelestarian busana. Lantaran, ketoprak yang dipentaskan kali ini banyak menggunakan pakaian khas adat Jepara. Dengan demikian anak cucu tidak lupa dengan budaya daerah setempat.
Selain itu, Penjabat (Pj) Bupati Jepara Edy Supriyanta juga mendorong untuk pengembangan budaya tradisional. Tugas pemerintah dan masyarakat adalah merawat dan melestarikan. Bahkan perlu ada ruang untuk anak-anak sekarang supaya bisa lebih mengenal budaya.
Di samping itu, Ketua Dewan Kesenian Daerah Jepara Kustam Erey menyampaikan dari database yang disusun, jumlah kelompok kesenian total ada 712 sanggar. Namun pada pandemi Covid-19, seiring pelarangan berkerumun dan pentas banyak yang bubar.
“Peran serta pelaku seni dan pemerintah daerah sangat diperlukan. Kesenian di Jepara ini adalah ujung tombak pariwisata. Saya yakin Jepara akan mati, kalau keseniannya juga mati. Untuk itu harus bisa dijaga dan terus dilestarikan,” jelasnya. (hms/fid/ziz)










