Superkomputer mungkin sudah banyak. Tapi yang bisa digunakan oleh publik dan terbilang murah, Aleleon adalah yang pertama.
MEMILIKI kecintaan terhadap teknologi sejak duduk dibangku SMP, mengantarkan Wilson Lisan berhasil membuat superkomputer. Seperti namanya, superkomputer merupakan komputer yang mampu menyelesaikan komputasi tingkat tinggi dengan kecepatan super.
Di antara kemampuan superkomputer buatannya, bisa prakiraan cuaca, riset iklim, simulasi peledakan nuklir, simulasi tes kecelakaan pada mobil, penemuan vaksin Covid-19, mengukur deteksi gempa, dan sebagainya.
“Jadi superkomputer itu adalah komputer dengan kecepatan sangat super. Dia digunakan untuk menyelesaikan komputasi, yang tidak bisa diselesaikan oleh komputer biasa,” kata Wilson, saat ditemui di kantornya, belum lama ini.
Dimulai tahun 2019, Wilson sapaan akrabnya, membangun superkomputer tersebut. Dikarenakan tempat yang terbatas, ia membangunnya di garasi rumah miliknya. Dimulai dari merancang dan membuat komponen lainnya.
Seiring berjalannya waktu Wilson juga membangun sebuah kantor yang saat ini ia gunakan. Perusahaan yang diberi nama Efison Lisan Teknologi ini beralamat di Jalan Kokrosono Nomor A-11, Panggung Lor, Kota Semarang sejak tahun 2021.
Efison Lisan Teknologi merupakan perusahaan sistem integrasi dan konsultasi pembangunan infrastruktur komputer di Kota Semarang mengeluarkan produk superkomputer pertamanya yang diberi nama Aleleon. Alasan Wilson menamai superkompute nya Aleleon yaitu dipilih dari nama anjing kesayangannya.
Perusahaan ini menyediakan layanan seperti jasa integrasi, layanan konsultasi dibidang IT, sistem komputer, hingga servis serta jual beli komputer maupun server. Daya tariknya tentu pada superkomputer dengan kemampuan yang tinggi ini.
Pria berusia 28 tahun ini mengatakan, beragam komputasi di bidang sains dapat diselesaikan dengan superkomputer, seperti fisika kuantum, kimia komputasi, biologi, farmasi, dan geofisika. Berbekal kemampuan tersebut, keberadaan superkomputer sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia. Dibandingkan dengan komputer lain, Aleleon superkomputer terbukti mampu lebih cepat menyelesaikan pengolahan data saintifik.
“Itu mereka menggunakan laptop macbooknya dengan harga 30 jutaan ya, itu satu bagian saja, itu selesainya bisa satu minggu mungkin, padahal jika dibandingkan penggunaan superkomputer, yang tadinya membutuhkan waktu 1 minggu, memakai superkomputer ini selesai hanya dengan waktu 4 jam,” ungkapnya.
Sedangkan untuk penggunaan komersial, di Indonesia belum dijumpai selain Aleleon. Sehingga, Aleleon menjadi superkomputer komersial pertama di Indonesia. Semua orang yang membutuhkan superkomputer dapat menggunakannya dengan mudah tanpa membayar mahal, membuat, ataupun mengajukan berbagai proposal mengenai izin penggunaan.
“Sementara yang kita bangun itu namanya Aleleon, itu adalah superkomputer komersial paling pertama. Itu adalah superkomputer yang kelas publik, komersial pertama di Indonesia. Jadi orang siapapun bisa makai, asal bayar dan sepakat dengan syarat dan ketentuan yang kami berikan,” kata Wilson.
Beberapa lembaga di Indonesia, seperti BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) dan beberapa Perguruan Tinggi, seperti ITB, UGM, dan Gunadarma juga memiliki superkomputer. Namun, hanya dikhususkan untuk penggunaan privat atau internal lembaga. Selain itu, ia mengatakan beberapa perguruan tinggi yang menjadi kliennya adalah UNDIP, UGM, UIN Walisongo, dan perguruan tinggi lainnya.
“Pernah juga lintas kerjasama dengan BMKG dan BRIN,” ungkapnya.
Untuk penggunaan superkomputer sendiri didasarkan pada kebutuhan klien. Biaya penggunaan Aleleon superkomputer ini dihargai RP 555 per CPU Core Hour (CCH) untuk akedmis, dan Rp 888 per CCH untuk non akademis. Menurutnya, penggunaan superkomputer satu dengan yang lainnya berbeda. Setiap komputer memiliki kode khusus tersendiri.
“Penggunaannya seperti pulsa listrik, jadi saldo akan berkurang jika superkomputer ini digunakan. Untuk penggunaan pribadi biasanya pada ambil Rp 1-2 juta. Kalau yang akademis bisa lebih dari Rp 25 juta, sesuai kebutuhan masing-masing,” tutupnya. (luk/gih)










