SMAN 1 Gelar Edufair sebagai Bekal Siswa

SUASANA: Siswa sedang bertanya kepada penjaga stand pemeran perguruan tinggi di Aula Besar SMAN 1 Semarang, Selasa (10/1/23). (LU'LUIL MAKNUN/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – SMA Negeri 1 Semarang menggelar pameran sosialisasi perguruan tinggi bertajuk “Smansa Edufair 2023”. Kegiatan yang dilaksanakan mulai Selasa (10/1) hingga Kamis (12/1) ini diharapkan bisa membantu peserta didik melanjutkan studinya.

Pantaun Joglo Jateng, terdapat 26 stand perguruan tinggi negeri dan swasta. Mereka memberikan penjelasan secara detail kepada peserta didik yang mampir ke standnya.

Ketua Panitia Edufair Priti Uning mengatakan, dalam kegiatan ini peserta didik khususnya kelas 12 mampu mengetahui tata cara masuk perguruan negeri secara detail. Mulai dari cara masuk, pembiayaan, serta jurusan yang ada, semuanya dijelaskan secara rinci oleh penjaga stand yang ada.

“Jadi ini judulnya Smansa Edufair. Bertujuan untuk menghadirkan perguruan tinggi negeri dan swasta guna memfasilitasi putra putri kami. Khusunya kelas 12 untuk melanjutkan studinya,” jelasnya usai pembukaan Edufair di Aula Besar SMA N 1 Semarang, Selasa (10/1/23).

Priti menambahkan, kegiatan pemeran stand perguruan tinggi ini tidak hanya bagi SMA N 1 Semarang saja. Pihaknya juga mengundang 40 sekolah SMA/SMK sederajat di Kota Semarang untuk turut mendapatkan informasi yang ada.

“Kami juga mengundang 40 sekolah lain secara khusus dengan masing-masing sekolah itu 40 orang, selama tiga hari pameran ini mulai dari 10 hingga 12 Januari 2023,” imbuhnya.

Sementara Kepala SMA N 1 Semarang Kusno mengaku kegiatan ini rutin diadakan setiap tahun. Namun ketika pandemi tahun lalu kegiatan dilakukan secara daring. “Program ini adalah bagian dari rancang bangun SMA N 1 untuk mempersiapkan anak-anak ke perguruan tinggi,” ungkapnya.

Kegiatan edufair ini, lanjutnya, diharapkan menjadi bekal siswa agar tidak kaget terkait perubahan seleksi masuk ke perguruan tinggi secara fundamental. Menurutnya, perubahan seleksi ini membutuh persiapan matang. Karena saat ini ujian masuk ke perguruan tinggi negeri tidak lagi menggunakan tes potensi akademik (TPA), melainkan diubah dengan tes potensi skolastik (TPS).

“Sekarang masuk perguruan tinggi tidak lagi menggunakan TPA tapi TPS. Nah TPS ini mengukur kemampuan kognitif anak yang dianggap perlu untuk menunjang kompetensi di perguruan tinggi. Jadi harus adaptasi, kegiatan ini adalah salah satu caranya,” tandasnya. (luk/gih)