Sambut Imlek, Warga Tionghoa Berikan Sesaji untuk Gus Dur

KENANG: Gorengan, kopi dan ayam sambal kecombrang tampak tersaji di meja altar di Gedung Rasa Dharma Semarang kemarin, sebagai sesaji untuk Gus Dur. (LU'LUIL MAKNUN/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Warga Tionghoa memberikan sesaji makanan untuk leluhur mereka dalam rangka menyambut Hari Raya Imlek. Ada yang lain dari warga Semarang, tempatnya di Gedung Rasa Dharma yakni mereka memberi sesaji makanan kesukaan bapak Tionghoa Indonesia yakni K.H. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

Kepala Sekretariat Rasa Dharma, Wen Shi Ling Ling menyampaikan, sudah sejak 2014 pihaknya menyajikan makanan kesukaan Gus Dur itu dalam persembahyangan. Di antaranya kopi, kemudian gorengan, rokok kretek, dan ayam sambal kecombrang. Makanan itu tampak tersaji dalam bilangan genap di atas meja yang juga berfungsi sebagai altar.

“Sinci Gus Dur ini, letaknya bersama sinci leluhur-leluhur atau tetua Rasa Dharma terdahulu. Secara prosesi sembayang di sini sama. Tapi ada yang membedakan di sajiannya. Ada yang khusus (sajian) untuk Gus Dur,” kata Cik Ling seusai sembayang leluhur.

Sesaji khusus tersebut, terang Cik Ling, berupa rokok, gorengan tempe atau mendoan, dan kopi. Ketiga sajian khsuus itu merupakan kesukaan dari K.H. Abdurrahman Wahid semasa hidupnya.

“Kenapa dikatakan khusus, karena sajian ini kan harus mewakili 3 macam, yaitu udara, darat dan air. Udara berupa hidangan unggas, air diwakili bandeng, darat biasanya babi. Tapi karena ini Gusdur, babi kita ganti dengan daging kambing. Kemudian ditambah kesukaan beliau (Gus Dur), ada kopi, rokok dan gorengan. Kemudian ada tambahan ayam sambal kecombrang dan tumpeng,” terangnya.

Sementara itu, Perwakilan Perkumpulan Boen Hian Tong, Ulin Nuha, menyampaikan jasa Gus Dur sangat besar bagi etnis Tionghoa. Hal itu lah yang membuat sinci Gus Dur ada di Rasa Dharma dan dihormati sebagai leluhur atau ayah.

“Gus Dur adalah bapak Tionghoa. Jasanya sangat besar bagi kami. Merubah peradaban Tionghoa di Indonesia. Berkat Gus Dur, kami tak perlu lagi sembunyi-sembunyi melakukan perayaan,” pungkas Ulin.

Tak hanya sembayang menjelang Imlek, lanjut Ulin, etnis Tionghoa juga melakukan ziarah ke makan Gus Dur di Jombang. Yakni untuk mengingat perjalanan bapak Tionghoa dan sebagai bentuk pengingat bersama atas jasa besarnya.

“Ini sebagai pengingat bagi kami. Termasuk sajian-sajian khusus itu, bukan berarti menyajikan dan memberi makan kepada mereka yang meninggal, bukan. Ini (sajian) hanya simbolis agar ingat. Ingat akan makanan kesukaanya. Tujuanya jasa besarnya,” tutupnya. (luk/gih)