UNTUK menjadi seorang broadcaster, perlu mempersiapkan mental. Salah satunya dengan tidak miliki rasa baper (bawa perasaan) saat ditegur maupun diperlakukan dengan keras oleh lingkungan kerja di dunia pertelevisian.
Hal itu pernah dilalui oleh Andita Nur Handayani. Perempuan berusia 31 tahun ini sudah tiga tahun ini menjabat sebagai Kepala Produksi di TVKU Semarang setelah 8 tahun lamanya bekerja di dunia penyiaran.
Pekerjaannya tersebut tak lepas dari keingainannya ketika masih remaja. Sebelum dirinya mengenal penyiaran, saat SMP ia suka menulis dan membaca buku. Ia juga mengikuti ekstrakulikuler majalah di sekolah.
“Waktu masih SMP itu pertama kalinya aku wawancara itu sama artis terkenal di masa itu, yaitu Asty Ananta, itu merupakan pengalaman yang seru banget sih,” ucapnya saat ditemui Joglo Jateng di ruang transit TVKU, Senin (17/4/23).
Saat menduduki bangku SMA, kata dia, ia sempat merasa bingung ingin memiliki profesi seperti apa. Lalu, suatu hari di televisi rumahnya sedang menayangkan salah satu program, yakni acara Sahur. Dari sana dirinya termotivasi untuk menjadi seorang broadcaster. “Nah dari situlah pengen belajar broadcasting,” ujarnya.
Ia mengatakan, selama tiga tahun menjabat sebagai Kepala Produksi TVKU dirinya harus berkoordinasi dengan para crew studio. Seperti kameramen, editor, dan masih banyak lagi yang mayoritas lelaki. Selama itu, dirinya mengaku tidak pernah merasakan kesulitan saat melakukan pekerjaan tersebut.
“Menurutku enggak ada masalah ya. Karena aku bekerja di lingkungan para cowok jadi bagaimana caranya aku harus nge-lead mereka ini yang justru kebanyakan seniorku semua. Kalau di sini cewek-cowok dianggap setara,” katanya.
Perempuan yang dulunya merupakan mahasiswi Jurusan Broadcasting ini, pernah mengalami kejadian pahit saat mengawali karir nya di TVKU. Seperti harus mengkondisikan para talent yang berada di dalam studio supaya tetap kondusif.
“Pernah waktu awal masih training di TVKU ada debat kandidat saat itu aku jadi Floor Director. Di situ, aku memegang salah satu partai besar. Waktu itu aku tidak tahu kalau ini akan sedikit berbahaya,” ucapnya.
Andita mengukapkan, selama acara berlangsung, sempet ricuh sampai ada beberapa orang yang berdiri. Bahkan, dirinya sampai hampir dipukul oleh salah satu simpatisan.
“Memang agak anarkis sampai aku sampai mau dipukul simpatisan. Dari situ aku harus menenangkan ‘ Pak, mohon duduk nggih,’ yang seolah-olah aku gak takut sama sekali. Nah setelah itu, dari belakang ada rekanku narik aku dari belakang supaya mundur,” tambahnya.
Setelah diketahui, salah satu simpatisan itu ternyata ada yang masih terpengaruh dari minuman alkohol. Dirinya saat itu merasa bersyukur karena sudah diselamatkan oleh rekan kerjanya itu.
Sudah banyak hal yang dilalui oleh Andita selama bekerja di dunia penyiaran. Ia beruntung karena selama itu memiliki rekan kerja yang support dan menyenangkan.
“Soalnya kalau sama cewek itu kan banyakan yang baperan ya. Jadi, aku lebih suka bekerja sama dengan cowok karena kalau sedang tukar pikiran kayak orang berantem tapi setelah itu udah loss aja,” katanya.
Ia berpesan kepada teman- teman yang ingin terjun ke dunia broadcasting untuk memastikan mentalnya harus siap. Jangan dimasukan ke dalam hati jika ada yang menegur ataupun diperlakukan keras. (cr7/gih)










