SEMARANG, Joglo Jateng – Menyambut gelaran reuni, Esemaji (Alumni Angkatan 1991 SMA 1 Semarang) mengenalkan para siswa beberapa kartun dan sketsa pada jaman dahulu melalui pameran seni rupa di Selasar SMA 1 Semarang. Pameran ini menjadi media penyambung komunikasi dengan generasi yang lebih muda.
Salah satu panitia sekaligus alumni SMA Negeri 1 Semarang, Boy Gilang Budiman menjelaskan, pihaknya ingin menghadirkan acara reuni yang unik. Menurutnya, dalam acara reuni pasti akan membicarakan soal nonstalgia masa dulu, yang belum memasuki era internet.
“Seni rupa itu seni yang tidak tersentuh nah kita coba hadirkan di kegiatan reuni ini. Dan sebetulnya kita ingin menyajikan ini untuk adek-adek karena kita (angkatan 91, Red.) punya romantika memori bahwa kartun pada saat itu adalah hiburan buat kita,” ucapnya saat ditemui Joglo Jateng, belum lama ini.
Berdasarkan pantauan wartawan, sebanyak 39 kartun maupun sketsa terpanjang dengan rapi menggunakan papan mading. Diketahui, tercantum seniman terkenal pada karya tersebut. Salah satunya, karya dari Jitet Kustana.
Selain itu, ada juga karya dari para kartunis lainnya yang terkenal. Mulai dari, Hoesi Kusnan, Ramli Badrudin, Dhar Cdhar, Ifoed, Numk Bola, Yol Yulianto, Yoyok Priyo, dan masih banyak lagi.
Boy mengaku, kartun-kartun yang menghibur berasal dari media cetak masa itu mayoritas kartunisnya berasal dari Kota Semarang. Mereka juga banyak menerima penghargaan mulai dari nasional hingga internasional.
“Semarang itu gudangnya kartunis terkenal, pada dasarnya kartunis semarang dinilai juara pada era itu. Tidak hanya dilingkup nasional, tapi prestasinya sudah internasional,” ujarnya.
Sebagai informasi, kartun dapat mengedukasi bagaiamana mengkritik dengan santun. Namun, tetap memuat kelucuan agar menjadi generasi yang selalu beradab.
Lebih lanjut, biasanya pada konten kartun berisikan kritikan tentang politik, kemanusiaan, dan olahraga. Selain itu, untuk sketsa sendiri gambaran dari arsitektur kemegahan dari gedung SMA Negeri 1 Semarang kala itu. Dalam pameran ini, menghadirkan juga karya-karya dari almarhum Prie GS, Masdfi Pak Bei, dan Almarhum Mas Goen yang tenar dengan Wayang Mbelingnya.
“Meski tiga orang sudah almarhum tapi karyanya masih kita tampilkan disini,” imbuhnya.
Gelar pameran ini akan terus ada hingga 3 Juni mendatang. Oleh karena itu, para siswa dapat mengapresiasi karya tersebut sembari menikmati maknanya.
Sementara itu, salah satu pengunjung, Fitri (22) memberikan apresiasinya atas hasil karya yang terpajang di papan mading. Menurutnya, sangat jarang acara reuni mengadakan pameran sketa dan katun jaman dahulu.
“Cukup bagus dan menarik apalagi acara reuni biasanya identik kumpul. Nah kita bisa lihat pameran sketsa dan kartun,” ungkapnya.
Menurutnya, hasil karya dari almarhum Prie GS paling menarik perhatiannya. Hal itu lantaran, pada makna karyanya itu menggambarkan tentang keadilan bagi warga indonesia perihal adanya konflik politik didalamnya. (cr7/mg4)










