KOTA, Joglo Jogja – Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta akan menyediakan Tempat Pembuangan Sementara (TPS) di 3 lokasi, untuk menangani sampah selama 40 hari kedepan. Penjabat (Pj) Wali Kota Yogyakarta Singgih Raharjo mengatakan, setelah diterbitkanya penutupan sementara di TPST Piyungan, maka pihaknya segera melakukan pencarian lokasi sementara untuk penangan sampah.
Hingga kemarin, kata dia, 1 dari 3 lokasi TPS sudah digunakan. Sementara 2 lainnya akan di berlakukan akhir pekan ini dan pekan depan.
“Selain itu kita juga menyiapkan TP3R Nitikan yang awalnya bisa menampung sampah 10 ton perhari, maka akan di tingkatkan menjadi 20 ton perhari,” tuturnya, Selasa (25/7/23).
Di samping mengaktifkan TPS, pihaknya juga memanfaatkan depo sampah yang semulanya ditutup saat ini sudah dibuka. Sehingga sampah yang sempat menumpuk di Kota Baru, Kusuma Negara, dan Jalan Magelang telah diangkut ke TPS. Adapun depo yang telah di buka sampai saat ini antara lain depo Utoroloyo, Dukuh, Ngasem, Pengok, dan TPS Tamansari.
“Nantinya kita akan mengalakan forum bank sampah masing-masing kelurahan untuk bisa menurunkan produksi sampah diwilayaknya dengan dilakukannya edukasi kembali melalui kemantren dan kalurahan,” pungkasnya.

Di sisi lain, Pemkot Yogyakarta juga tengah mengoptimalkan Rumah Magot di Mendungan, Giwangan untuk menekan jumlah sampah organik. Sekertaris Daerah (Sekda) Kota Yogyakarta, Aman Yuriadijaya mengatakan, pengolahan sampah dengan Gerakan Zero Sampah Anorganik (GZSA) telah relatif menunjukan hasil maksimal.
Oleh karena itu, pihaknya mulai menggalakkan pengolahan sampah organik. Salah satunya dengan peternakan magot.
“Sehingga apa yang dilakukan masyarakat Mendungan ini menjadi inspirasi agar masyarakat Kota Yogyakarta di kewilayahannya termasuk bank sampahnya bisa melakukan pengolahan sampah organik,” ungkapnya di Mendungan, Giwangan, Selasa (25/7/23).
Ia menambahkan, selama enam bulan, GZSA di Kota Yogyakarta telah mampu mengurangi pembuangan ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan sebanyak 87 ton atau sekitar 30 persen. Menurutnya, program berbasis sosial masyarakat ini menghasilkan progres kemajuan yang baik.
“Dan sekarang pengolahan samapah organik akan kita intensifkan,” tambahnya. (riz/mg4)










